Senin 14 Aug 2017 16:58 WIB

Asosiasi: E-Commerce Atasi Disparitas Harga Barang

ecommerce
ecommerce

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi E-Commerce Indonesia (Indonesian E-Commerce Association/idEA) memandang sistem perdagangan nasional berbasis elektronik (e-commerce) dapat menyelesaikan permasalahan disparitas atau perbedaan harga barang di Indonesia.

"E-commerce di Indonesia lebih strategis karena menyelesaikan disparitas harga barang. Kesempatan sama untuk barang apapun di seluruh wilayah Indonesia, tinggal biaya kirimnya saja," kata Ketua Umum idEA Aulia Marinto dalam seminar nasional bertajuk "Apakah Perekonomian Indonesia Melambat?" di Jakarta, Senin (14/8).

Aulia menjelaskan perkembangan internet di Indonesia berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi digital. Ia memperkirakan saat ini terdapat 132,7 juta pengguna internet dan 106 juta pengguna media sosial di Indonesia.

"Sejak 2009 mulai muncul pemain (e-commerce) baru dan 2010 hingga sekarang banyak sekali pemain bermunculan. Pertumbuhan ini mendorong transaksi dalam jaringan (online)," ucap dia.

Namun, lanjut Aulia, volume sistem perdagangan berbasis elektronik di Indonesia saat ini belum bisa menopang belanja konsumsi yang masih tumbuh melambat. "Di Cina saja kontribusi online masih sekitar 9-10 persen. Menurut saya, tidak bisa (perdagangan) online menggantikan offline, tetapi hanya efisiensi yang bisa didapatkan," ujar dia.

Pasar atau nilai perdagangan nasional berbasis elektronik Indonesia diperkirakan akan mencapai 130 miliar dolar AS di 2020 dengan valuasi bisnis sebesar 10 miliar dolar AS.

Setelah tumbuh sedemikian rupa, kata Aulia, maka kemudian butuh fondasi regulasi agar dampaknya dapat terasa bagi pertumbuhan produk domestik bruto. Asosiasi dan para pemain di bidang e-commerce juga akan memikirkan mengenai pembuatan data yang terintegrasi.

Aulia juga mengapresiasi diterbitkannya Paket Kebijakan Ekonomi XIV terkait peta jalan sistem perdagangan nasional berbasis elektronik yang bertujuan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020.

"Pemain memang membutuhkan mekanisme yang baik. E-commerce sudah ada di Indonesia selama 20 tahun, maka menurut saya hanya butuh lima tahun saja untuk mampu tumbuh lebih cepat dari negara lain," kata dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement