Jumat 04 Aug 2017 14:36 WIB

Industri Manufaktur Turun, Sumbar Harus Belajar dari Kaltim

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nidia Zuraya
Industri manufaktur
Foto: Prayogi/Republika
Industri manufaktur

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Pemerintah Provinsi Sumatra Barat boleh lah belajar dari Kalimantan Timur dalam hal menghadapi lesunya industri sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Hal ini lantaran Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan industri manufaktur Sumbar tumbuh negatif sepanjang Juli 2017.

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang Sumbar secara year on year (yoy) pada kuartal II tahun 2017 turun sebesar 7,05 persen, sementara di level nasional mengalami pertumbuhan positif sebesar 4,00 persen.

Di sisi lain, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil Sumbar pada kuartal II tahun 2017 mengalami pertumbuhan negatif sebesar 1,66 persen (yoy), sementara di level nasional mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,50 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Barat Puji Atmoko mengakui, berdasarkan tren dalam lima tahun belakangan, industri manufaktur di Sumatra Barat mengalami penurunan. Menurutnya, hal ini lantaran industri pengolahan di Sumatra Barat yang masih mengandalkan perdagangan produk mentah atau raw material. Misalnya, komoditas perkebunan dan pertanian seperti CPO, kopi, dan gambir.

Apalagi khusus untuk gambir yang pasarnya sangat terbatas di level domestik. "Memang turun sedikit. Kita tak boleh gantungkan pada produk primer. Sudah saatnya kita tinggalkan komoditas primer. Kita harus ada hilirisasi. Harus ada produk setengah jadi. Supaya kita dapat nilai tambah dan yang menikmati produsen dan petani," jelas Puji, Jumat (4/8).

Puji memberi contoh, daerah yang belum bisa melakukan hilirisasi secara masif bisa jadi akan terpukul ketika harga komoditas ekspor anjlok. Seperti Kalimantan Timur yang bergantung pada komoditas batu bara dan minyak bumi, lanjut Puji, sangat terpukul ketika harga dua komoditas tersebut merosot.

Puji menilai hal tersebut terjadi di Sumatra Barat saat ini ketika industri manufaktur belum bisa berkembang dan hanya bergantung pada perdagangan produk yang berbasis produksi atau rwa material. "Catatan kami, kita harus tinggalkan basis komoditas primer. Misalnya Kaltim batu bara jatuh, pertumbuhan jadi negatif. Kita harus mulai barang setengah jadi," ujar dia.

Sebelumnya, Gubernur Sumatra utara Irwan Prayitno menyebutkan bahwa industri besar memang kurang menonjol di Sumbar. Sumatra Barat, menurutnya, lebih didominisasi oleh industri kecil dan menengah. Kondisi ini berhubungan dengan faktor budaya, faktor wilayah, dan faktor karakter masyarakat Minang.

"Sumbar secara wilayah terletak jauh dari pasar dan raw material industri sehingga kurang efisien, biaya transportasi menjadi tinggi," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement