Sabtu 17 Jun 2017 03:31 WIB

Utang Luar Negeri Indonesia Tumbuh Melambat pada April

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ilham Tirta
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara
Foto: ROL/Havid Al Vizki
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2017 tercatat sebanyak 328,2 miliar dolar AS atau tumbuh 2,4 persen year on year (yoy). Angka itu lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan Maret 2017 sebesar 2,9 persen yoy.

Berdasarkan kelompok peminjam, Bank Indonesia (BI) menjelaskan, perlambatan pertumbuhan ULN pada April 2017 disebabkan oleh ULN sektor publik yang melambat dan ULN sektor swasta yang terus menurun. Posisi ULN sektor publik pada April 2017 tercatat 167,9 miliar dolar AS atau 51,2 persen dari total ULN.

"Angka tersebut tumbuh 9,2% persen yoy, lebih lambat dari 10,0 persen yoy pada bulan sebelumnya," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, melalui keterangan resmi, Jumat, (16/6). Sedangkan ULN sektor swasta, katanya, tercatat 160,3 miliar dolar AS atau 48,8 persen dari total ULN. Jumlah itu turun 3,9 persen yoy, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada Maret 2017 sebesar 3,6 persen yoy.

Berdasarkan jangka waktu, Tirta menuturkan, perlambatan ULN Indonesia terjadi baik pada ULN berjangka panjang maupun berjangka pendek. ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,4 persen dari total ULN pada April 2017 tercatat tumbuh 1,0 persen, sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan di bulan sebelumnya yang sebesar 1,1 persen yoy.

"Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada April 2017 tetap sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional," kata Tirta. Ia menyatakan, BI terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta.

Tujuannya untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan. "Tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi," tambahnya.

Berdasarkan catatan BI, Posisi ULN berjangka panjang tercatat mencapai 283,6 miliar dolar AS. Terdiri dari ULN sektor publik sebesar 164,4 miliar dolar AS atau 58,0 persen dari total ULN jangka panjang serta ULN sektor swasta yang sebesar 119,2 miliar dolar AS atau 42,0 persen dari total ULN jangka panjang.

Sementara itu, ULN berjangka pendek tumbuh 12,0 persen yoy, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan Maret 2017 yang sebesar 16,0 persen yoy. Posisi ULN berjangka pendek tercatat 44,6 miliar dolar AS atau 13,6 persen dari total ULN. Terdiri dari ULN sektor swasta sebesar 41,1 miliar dolar AS setara 92,1 persen dari total ULN jangka pendek serta ULN sektor publik sebesar 3,5 miliar dolar AS atau 7,9 persen dari total ULN jangka pendek.

"Menurut sektor ekonomi, posisi ULN swasta pada April 2017 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih," jelas Tirta. Menurutnya, pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta menembus 76,4 persen.

Bila dibandingkan dengan Maret 2017, kata Tirta, pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan mengalami peningkatan. Sedangkan ULN sektor listrik, gas dan air bersih tumbuh melambat. Di sisi lain, ULN sektor pertambangan dan sektor keuangan masih mengalami kontraksi pertumbuhan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement