Rabu 03 May 2017 08:57 WIB

BUMN Penerbangan Italia Terancam Bangkrut

Ilustrasi penerbangan
Ilustrasi penerbangan

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA -- Pemerintah Italia menyetujui sejumlah langkah penyelamatan terhadap maskapai penerbangan utama Italia, Alitalia. Maskapai penerbangan yang saham terbesarnya dimiliki pemerintah Italia ini mengatakan jadwal penerbangannya akan terus beroperasi sesuai rencana, sementara pemerintah selaku pemegang saham akan memeriksa apakah perusahaan tersebut dapat dipertahankan.

Alitalia telah menerima suntikan dana lebih dari 7 miliar euro dari Pemerintah Italia selama dekade terakhir. Pekan lalu, karyawan Alitalia menentang rencana perusahaan untuk memangkas jumlah pegawai dan memotong gaji yang memungkinkan perusahaan mendapatkan dana baru.

Alitalia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pemegang saham Pemerintah Italia dan maskapai Abu Dhabi, Etihad, yang memiliki 49 persen saham Alitalia, telah berkomitmen untuk merekapitalisasi dan membiayai rencana tersebut dengan menyuntikkan dana sebesar 2 miliar euro.

"Tapi tanpa persetujuan pekerja, rencananya tidak bisa dilanjutkan," kata maskapai tersebut dilansir BBC, Rabu (3/5).

Pada hari Selasa (2/5), pemerintah Italia telah memberi izin kepada Alitalia untuk masuk dalam program penyelamatan. "Pemerintah (Italia) juga menyetujui untuk menjembatani pinjaman 600 juta euro yang memungkinkan Alitalia tetap beroperasi selama proses administrasi," kata juru bicara Alitalia.

Pemerintah telah meminta tim penyelamatan Alitalia untuk mencari calon pembeli secepat mungkin, sambil juga meminimalkan jumlah uang negara yang dikeluarkan untuk maskapai tersebut.

Sementara itu, Chief Executive Etihad, James Hogan, mengatakan pihaknya telah melakukan semua upaya untuk bisa mendukung Alitalia. "Kami telah melakukan semua yang kami bisa sebagai pemegang saham minoritas. Namun jelas bahwa bisnis ini memerlukan restrukturisasi yang mendasar dan jauh untuk bertahan dan tumbuh di masa depan," ujarnya.

"Tanpa dukungan semua pemangku kepentingan untuk restrukturisasi tersebut, kami tidak siap untuk terus berinvestasi," kata Hogan menambahkan.

Berita Lainnya

Rekomendasi