Ahad 30 Apr 2017 10:58 WIB

Indonesia Ajak Thailand Lawan Resolusi Sawit Eropa

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Nur Aini
Pekerja memanen kelapa sawit di perkebunan inti rakyat Mesuji Raya, OKI, Sumatera Selatan, Rabu (7/9).
Foto: Antara/Budi Candra Setya
Pekerja memanen kelapa sawit di perkebunan inti rakyat Mesuji Raya, OKI, Sumatera Selatan, Rabu (7/9).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kerja sama perdagangan di kawasan negara-negara Indonesia, Malaysia, Thailand-Groeth Triangle (IMT-GT) memiliki potensi yang besar mencapai 416 miliar dolar AS atau 18,3 persen dari total perdagangan di sekitar Asia Tenggara (ASEAN)‎. Potensi ini juga didukung oleh rata-rata pertumbuhan ekonomi dari 2010-2015 adalah 6,9 persen. Karena itu, Indonesia mengajak negara tersebut untuk kerja sama terkait penjualan sawit.

"Ini juga merupakan angka yang cukup tinggi," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melalui siaran pers Istana, Ahad (30/4).

Perbaikan ekonomi juga ditunjang dengan potensi di kawasan ini yang mencapai 81 juta penduduk atau sekitar 13 persen dari total populasi ASEAN.

Dari segi angkatan kerja, terdapat 38,3 juta yang berarti bahwa 12,2 persen dari total angkatan kerjaASEAN.

Retno menjelskan, dengan kondisi geografis ketiga negara, salah satu kerja sama yang bisa dikembangkan adalah sektor perkebunan. Perkebunan sawit merupakan keunggulan dari ketiga negara yang sejauh ini mampu dikolaborasikan bersama.

Hal ini pun yang disampaikan Presiden Jokowi dalam KTT IMT-GT ke-10 di Philippine International Convention Center (PICC) Manila, Filipina. Jokowi menyampaikan bahwa kawasan ini memiliki potensi yang dapat dikembangkan dan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yang didukung oleh sektor perkebunan di antaranya kelapa sawit.

Retno juga menjelaskan bahwa akhir-akhir ini hasil kelapa sawit dari Indonesia menerima banyak sekali kampanye hitam. Contoh terakhir adalah resolusi parlemen Eropa mengenai kelapa sawit yang sangat diskriminatif. Untuk mengantisipasi hal seperti ini, Indonesia dan Malaysia kita sudah membentuk apa yang dinamakan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). CPOPC diharap mampu menepis semua isu negatif terkait perkebunan sawit.

Oleh karenanya dalam KTT tersebut, Presiden mengajak Thailand bergabung dengan Indonesia dan Malaysia di dalam konteks CPOPC dan bersama-sama untuk melawan kampanye hitam yang dilakukan oleh berbagai pihak terhadap kelapa sawit.

"Apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi didukung sepenuhnya oleh PM Malaysia. Sebelumnya waktu di KTT ASEAN, PM Malaysia juga sudah sempat menyebut mengenai masalah perlunya kita untuk melawan kampanye hitam terhadap kelapa sawit," kata Retno.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement