REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan BI 7 Day (Reverse) Repo Rate tetap sebesar 4,75 persen. Hal ini sebagai respon dari ketidakpastian pasar keuangan global akibat kemenangan tak terduga Trump sebagai Presiden AS.
Kepala Kajian Makroekonomi dan Perdagangan Internasional LPEM FEB Universitas Indonesia, Febrio Kacaribu mengatakan, keputusan BI ini mempertimbangkan kondisi domestik yang mengindikasikan penurunan suku bunga diimbangi oleh risiko arus modal keluar dan ketidakpastian global.
Mengingat ketidakpastian yang timbul akibat kebijakan Trump yang tidak dapat dipastikan, ia memprediksikan kecepatan kenaikan suku bunga AS menjadi lebih tidak pasti.
"Jika Trump meningkatkan pengeluaran dan menjalankan janji proteksionisme, saya melihat terdapat tekanan inflasi dari permintaan dan penawaran pada tahun 2017 dan 2018 yang dapat mempercepat kenaikan suku bunga The Fed," ujar Febrio, Kamis (17/11).
Efek kemenangan Trump terhadap Indonesia terlihat dari depresiasi rupiah sebesar 2,3 persen dan lebih dari Rp 10 triliun arus modal keluar bersih dari pasar saham dan obligasi. Mengingat ketidakmampuan pelaku pasar dalam memprediksi apa yang akan Trump lakukan setelah menjadi presiden, mempertahankan tingkat suku bunga akan mencegah rupiah terdepresiasi lebih lanjut.
"Di tengah tren arus modal keluar, BI perlu berhati- hati dalam membuat target rentang rupiah yang realistis selama beberapa minggu ke depan," katanya.