Jumat 07 Oct 2016 14:50 WIB

Yuks, Mulai Menabung Saham

Pasar saham/Ilustrasi
Foto: corbis.com
Pasar saham/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) mengajak masyarakat untuk berinvestasi saham seiring dengan membaiknya perekonomian Indonesia di tengah program amnesti pajak di dalam negeri.

"Adanya program amnesti pajak merupakan event yang baik untuk berinvestasi," ujar Ketua AAEI Haryajid Ramelan di Jakarta, Jumat (7/10).

Ia menambahkan untuk memudahkan masyarakat dalam menentukan pilihan investasi di saham, pihaknya telah melakukan kajian terhadap kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia. "Kami melakukan kajian terutama pada laporan keuangan emiten atau perusahaan tercatat di BEI di 5 tahun terakhir. Kita padukan semuanya, dari 530 emiten akhirnya terpilihlah 40 emiten," paparnya.

Ia menambahkan salah satu kriteria dalam pemilihan 40 emiten itu diantaranya dividen yang dibagikan emiten, keterbukaan informasi yang disampaikan perusahaan, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG), termasuk opini yang beredar di masyarakat.

"Paling cepat, kajian emiten akan dilakukan setiap enam bulan, karena ini untuk mendukung program BEI yakni 'Yuk Nabung Saham'," katanya.

Menurut Haryajid, keberhasilan investasi melalui nabung saham sangat bergantung dengan kinerja perusahaan yang dipilih. Oleh karena itu, pemilihan emiten yang akan dijadikan objek nabung saham sangatlah penting.

"Karena nabung saham sifatnya jangka panjang, dan mengutamakan return dari dividen yang diberikan. Oleh karena itu, kami memberikan analisa mengenai emiten yang tepat untuk dijadikan pilihan pada program nabung saham," ucapnya.

Seluruh emiten yang terpilih, lanjut dia, akan direkomendasikan dalam program "Yuk Nabung Saham Goes To Campus". Selain itu emiten-emiten terpilih akan direkomendasikan oleh para analis untuk menjadi objek nabung saham.

Salah satu perusahaan tercatat yang masuk dalam 40 emiten yang direkomendasikan, diantaranya Jasa Marga Tbk, Astra International Tbk, Bank Rakyat Indonesia Tbk, Bukit Asam Tbk, Wijaya Karya Tbk, United Tractor Tbk, Semen Indonesia Tbk, Adaro Energy Tbk, Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk.

Kemudian, Adhi Karya Tbk, Unilever Tbk, Kimia Farma Tbk, Telekomunikasi Indonesia Tbk, Waskita Karya Tbk, Bank Negara indonesia Tbk, Pembangunan Perumahan Tbk, Bank Mandiri, Wijaya Karya Beton, Bank Central Asia Tbk, Kalbe Farma Tbk, dan Sri Rejeki Isman Tbk.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement