Rabu 14 Sep 2016 20:21 WIB

Bibit Bawang Merah Impor Dinilai tak Lebih Baik dari Produk Lokal

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nur Aini
Pekerja memeriksa bawang merah yang dikeringkan di Gudang Bulog Divre Jakarta, Senin (16/5).  (Republika / Wihdan )
Foto: Republika/ Wihdan
Pekerja memeriksa bawang merah yang dikeringkan di Gudang Bulog Divre Jakarta, Senin (16/5). (Republika / Wihdan )

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keputusan pemerintah untuk melakukan impor bibit bawang merah dari Vietnam dan Filipina membuat anggota Komisi IV DPR Herman Khaeron geram. Menurutnya, kualitas bibit lokal jauh lebih baik dari bibit impor.

"Sebetulnya kalau bagus ya bagus komoditas lokal," katanya kepada Republika.co.id, Rabu (14/9).

Ia mengatakan, bibit lokal lebih adaptif karena telah beradaptasi dengan lingkungan termasuk tanah dan unsur hara. Ia mencontohkan Thailand sebagai negara yang terkenal dengan komoditas hasil panennya mengembangkan produk lokal dengan intervensi teknologi. Negara itu mengadaptasi komoditas terhadap lingkungan tanah sehingga berkembang maksimal.

Selain itu, penggunaan bibit impor juga dinilai berisiko lebih tinggi. "Bibit yang didatangkan dari negara lain itu belum tentu terbebas dari penyakit yang mengancam gagal panen," ujarnya.

Ia meminta pemerintah untuk dapat membuat progran yang tidak hanya menggenjot hasil produksi tapi juga pembibitan. Dengan begitu, ketergantungan Indonesia untuk mengimpor bibit dapat teratasi. "Kalau bibit tidak cukup produksi berkurang," kata dia.

Melihat produksi komoditas pangan terutama bawang di Indonesia dinilai Herman cukup untuk menghasilkan bibit. Perum Bulog memutuskan impor bibit bawang merah sebanyak 1.500 ton dengan alasan menekan harga bibit di kalangan petani. Bibit impor ini dijual seharga maksimal Rp 30 ribu.

Namun, menurut Herman harga bukan menjadi alasan untuk pemerintah melakukan impor. Apalagi, kata dia, pada waktu panen di tingkat petani, harga bawang murah lebih murah dan sebaiknya disimpan beberapa untuk dijadikan bibit.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement