Selasa 16 Aug 2016 10:45 WIB
Merdeka di Era Digital

Pria Lulusan SMP Menjadi Tukang Membuat Website

Rep: Ahmad Baraas/ Red: Ilham

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama Tri Yanto sangat dikenal oleh para pengelola website di Bali. Bayangkan, dari sepuluhan koran digital yang ada di Bali, lebih dari separuhnya dibuat oleh pemuda kelahira Karanganar, Solo Jawa Tengah itu.

"Ada 25an yang sudah saya buat dalam kurun waktu lima tahun terakhir," kata Tri Yanto.

Kendati sudah menerima puluhan oder membuat korang elektronik, ternyata Tri hanya lulusan di SMPN 5 Karanganyar Solo. Dia putus sekolah di sebuah STM swasta karena terbentur biaya.

Karenanya, dia ingin bekerja sambil bersekolah. Namun karena terus bekerja dan menghasilkan uang, ia lupa untuk melanjutkan sekoahnya.

Mulanya, Tri bekera di percetakan selama dua tahun, kemudian membuka konter HP. Saat memiliki konter HP itu, usahanya menjadi sangat maju dan uang yang dimiliknya cukup banyak.

Salah seorang keluarganya kemudian mengajari Tri bermain internet lewat HP. Kemudian dia mulai bermain internet di warnet. Karena keasikan, pekerjaannya di konter HP dia tingalkan, bahkan uang penjualan HP terkuras untuk bayar sewa internet.

Lama-lama, dia mulai tertarik mengutak-atik scribe atau rumus membuat website dan akhirnya berhasil. Kemudian dia mencoba membuat website untuk dirinya sendiri. Dia mulai terkenal ketika ada seorang wartawan yang melihat dia mendesain website.

"Dia kemudian pesan dibuatkan website, kemudian besoknya menyusul pesanan web baru lagi dan beberapa kali dia memesan website pada saya," kata Tri.

Sejak 2010, nama Tri sudah mulai dikenal di kalangan pembuat dan pengelola website hingga dia mulai menerima banyak pesanan. Meski begitu, membuat website itu hanya dijadikannya kerja sambilan.

Untuk harga satu website, Tri memasang tarif antara Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung pada tingkat kesulitannya. Dia mengaku tidak mau mematok harga pembuatan website terlalu mahal agar banyak pengordernya.

"Saya sudah bersyukur banyak pemesan website yang serius mengelola website-nya," kata Tri yang punya seorang istri dan seorang anak berusia 1,5 tahun itu.

Menurut dia, para pemesan website tersebut dari ragam profesi, mulai dari kalangan wartawan, politikus, sampai pengusaha. "Tarif yang dikenakan Tri untuk membuat website awalnya hanya sekitar Rp 500 ribu. Namun belakangan dinaikkan jadi Rp 750 ribu," kata Tri.

Tri mengatakan, dia bisa mengerjakan satu website dalam waktu sekitar 3-6 hari. Tapi kalau warnet lagi sepi pengujung, dia bisa mengerjakan website hanya dalam sehari. "Biasanya saya mengerjakan pesanan website di sela-sela jam kerja menjaga warnet," kata Tri.

Selain membuat website, Tri bekerja sebagai penjaga dan pengelola warung internet temannya. Gaji yang diterimanya juga sesuai dengan UMR setempat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement