Ahad 24 Apr 2016 18:30 WIB

Astra Otoparts Bukukan Laba Rp 318 Miliar

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Dwi Murdaningsih
RUPS Astra Otoparts.
Foto: Astra Otoparts
RUPS Astra Otoparts.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - PT Astra Otoparts kembali menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Kamis (21/6) kemarin. Dalam RUPST tersebut empat agenda pembahasan mulai dari perubahan anggota BOD & BOC sampai laporan pendapatan bersih yang mencapai Rp 11,7 triliun.

Dari siaran pers yang diterima Republika.co.id, laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas pada tahun 2015 dapat dijaga posotif sebesar Rp 318, 6 miliar walaupun turun 63,4 persen dari perelohan tahun sebelumnya sebesar Rp 869,8 miliar.

Sepanjang tahun 2015, PT Astra Otoparts Tbk mengalami penurunan 4,3 persen menjadi Rp 11,7 triliun dibandingkan pada tahun 2014 sebesar Rp 12,3 triliun.Penurunan tersebut terjadi pada segmen pasar OEM, meskipun menurun, masih dapat diimbangi dengan meningkatnya penjualan suku cadang pengganti yang meningkat di tengah melemahnya daya beli masyarakat karena pengaruh dari penambahan 28 gerai ritel di tahun 2015.

Akibat penurunan pendapatan bersih, fluktuasi nilai tukar mata uang asing dan peningkatan minimum pun menurun ikut terkena imbas, laba bruto tahun 2015 juga mengalami penurunan menjadi Rp 1,7 triliun  dari 2014 Rp 1,8 triliun atau turun sebesar 1,4 persen.

Bagian laba bersih entitas sosial dan ventura juga mengalami penurunan 93,5 persen dari Rp 487,7 miliar di tahun 2014, menjadi Rp 31,5 di tahun ini. Penurunan kontribusi terjadi karena penurunan permintaan kendaraan bermotor, peningkatan upah minimum dan kerugian atas penjabaran mata uang asing, Di samping itu,beberapa anak perusahaan terasosiasi yang baru berdiri di tahun 2014 dan 2015 juga menghadapi beban depresi yang mempengaruhi kinerja keuangannya.

Meskipun seperti itu, beban usaha pada tahun 205 mengalami peningkatan menjadi Rp 1,4 triliun dari beban usaha tahun 2014 sebesar Rp 1,3 triliun atau sebesar 5 persen. Kenaikan beban usaha ini seiring dengan meningkatnya beban penjualan sebesar 13,3 persen  dari Rp 564,9 miliar di tahun 2014 menjadi Rp 639,7 miliar.

"Terutama karena meningkatnya biaya iklan dan promosi untuk memacu penjualan di segmen perdagangan."

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement