Kamis 03 Sep 2015 17:34 WIB

Utang Luar Negeri Perlu Diwaspadai

Rep: Satria Kartika Yudha/ Red: Teguh Firmansyah
Layar monitor menunjukan pergerakan grafik surat utang negara di Delaing Room Treasury (ilustrasi).
Foto: Republika/Wihdan
Layar monitor menunjukan pergerakan grafik surat utang negara di Delaing Room Treasury (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kepala Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan utang luar negeri (ULN)  Indonesia perlu diwaspadai di tengah menguatnya dolar AS. Meskipun rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) masih dalam kategori aman, ada beberapa indikator yang menunjukkan perlu adanya peningkatan kewaspadaan.

Lana mengatakan, indikator kewaspadaan terlihat dari tingkat debt service ratio (DSR) atau rasio utang terhadap pendapatan ekspor sudah tinggi. Selain itu juga tingginya rasio pembayaran utang terhadap cadangan devisa.

"Indikator-indikatornya boleh dibilang kita sudah harus hati-hati. Sudah melewati batas aman," kata Lana kepada Republika.

Berdasarkan data Bank Indonesia per kurtal II 2015, DSR mencapai 56,3 persen. Ini sedikit menurun dari kuartal I sebesar 56,9 persen. Bila mengikuti ketentuan lembaga internasional, DSR idealnya berada di kisaran 30-33 persen.

ULN Indonesia didominasi sektor swasta dengan nilai 169,7 miliar dolar AS atau 55,8 persen dari total ULN. Menurut Lana, utang swasta tidak perlu terlalu dikhawatirkan di tengah pelemahan rupiah. Sebab, sekitar 25 persen dari total utang swasta berasal dari perusahaan induk di luar negeri. "Itu lumayan meringankan," kata dia.

Lana mengatakan, besarnya utang swasta tidak boleh dijadikan kambing hitam sebagai pengganggu stabilitas rupiah akibat banyaknya permintaan dolar saat jatuh tempo. Dia mengatakan, swasta banyak meminjam uang ke luar negeri karena memang perbankan dalam negeri kurang mampu.

Selain kurang memadainya likuiditas di dalam negeri, faktor lainnya juga karena perbankan domestik banyak yang tidak paham dengan sektor swasta. Dia mencontohkan, perusahaan swasta yang bergerak di bidang pelayaran tidak ada yang mendapat pinjaman dari perbankan dalam negeri.

"Akhirnya mereka banyak pinjam ke luar negeri seperti ke Singapura. Jadi jangan salahkan swasta kalau rupiah tidak stabil. Ini juga karena masalah di dalam negeri sehingga mereka meminjam ke luar," ujar Lana.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement