Rabu 26 Aug 2015 16:23 WIB

Pemangkasan Rantai Distribusi Pangan Bisa Picu Oligopsoni

Rep: Sonia Fitri/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
 Pedagang daging sapi tertidur los pedagang daging sapi di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Ahad (9/8).
Foto: Republika/Yasin Habibi
Pedagang daging sapi tertidur los pedagang daging sapi di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Ahad (9/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Ekonomi Pertanian dari Institute For Develoment of Economic and Finance (Indef) Bustanul Arifin menyebut pemerintah tak perlu repot-repot mengupayakan pemangkasan rantai distribusi pangan. Sebab, upaya tersebut malah akan memancing iklim oligopsoni yang malah membuat pasar sakit.

Oligopsini merupakan keadaan dimana dua atau lebih pelaku usaha menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan atau jasa. "Tanpa dipangkas pun sebenarnya akan bisa berjalan dengan baik," katanya pada Rabu (26/8).

Seperti diketahui, pemerintah melalui menteri pertanian berkali-kali menyebut soal panjangnya rantai distribusi sehingga perlu dipangkas. Tujuannya agar harga pangan tidak melambung karena banyak melalui pintu perdagangan pasca keluar dari sentra produksi.

Pemangkasan, lanjut dia, malah berpotensi menyulut persekongkolan harga baru di tingkat pedagang besar dalam menentukan harga beli. Pada akhirnya, petani juga lah yang akan tertekan.

Pemerintah diimbau untuk waspada karena mengurus pasar dan pelakunya ia ibaratkan seperti mengurus anak. Jangan terlalu dikeraskan karena akan sakit dan tertekan. Pun jangan pula terlalu diabaikan karena akan ngelunjak.

Solusi yang ia tawarkan agar pasar sehat yakni dengan membangun koordinasi yang baik antara Kementerian Pertanian dan Perdagangan. "Memperbaiki struktur bukan dengan memangkas, tapi dimulai dari mencari informasi pasar," katanya. Informasi meliputi data dan kemudahan akses konsumen dan pedagang menjangkau barang komoditas pasar.

Di sisi produksi, petani juga harus dijamin agar memiliki konfidensi tinggi. Jangan sampai, mereka didorong untuk terus menanam tapi tidak ada pembeli, atau harga beli dari petani rendah. Ia bahkan yakin, pemerintah dan stakeholder telah memiliki data akurat soal pangan. Namun sayangnya, data tersebut tidak dipakai karena banyaknya kepentingan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement