Selasa 18 Aug 2015 23:42 WIB

BEI: BUMN Harus Yakin Pasar Modal Akan Bagus Jika Mereka Go Public

Rep: Risa Herdahita Putri/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Layar elektronik menunjukkan pergerakkan harga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (12/8).
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Layar elektronik menunjukkan pergerakkan harga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (12/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbagai keuntungan bisa didapat jika Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendaftarkan diri sebagai perusahaan terbuka. Penjualan saham melalalui pendaftaran Initial Public Offering (IPO) di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru bisa menjadi pilihan BUMN dalam rangka mendapat pembiayaan jangka panjang.

IPOakan membuat kualitas tata kelola BUMN semakin meningkat. Hal ini ke depannya tentu akan menambah kredibilitas perusahaan di mata stakeholder dan masyarakat.

"Tingkat kepercayaan masyarakat kepada BUMN akan membuat BUMN bisa bersaing di tingkat nasional dan internasional," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), selasa (18/8).

Usaha privatisasi BUMN yang memperluas kepemilikan saham dari negara kepada rakyat ini pun ditanggapi langsung oleh Direktur Utama Bursa Efek Indinesia (BEI), Tito Sulistio, Selasa (18/8). Pihaknya bahkan telah mempersiapkan divisi khusus. Nantinya divisi itu akan mengurus kesepakatan dengan perusahaan BUMN yang akan listing di BEI.

"Kita akan buat semacam kepala seksi khusus untuk privatisasi di bursa, karena memang jatuhnya beda, lobi akan lebih banyak, edukasi juga akan berbeda. Orangnya sudah ada," paparnya.

Orang yang nanti ditugaskan di bidang ini, Tito menjelaskan, tentunya harus mengerti prinsip dasar privatisasi dan proses IPO. Divisi ini nantinya akan langsung berada di bawah pengawasannya dan Direktur BEI, Samsul Hidayat.

"Karena potensinya besar," tegas dia.

Dalam hal ini ia menekankan, untuk go public, BUMN seharusnya memahami satu landasan filosofis. Katanya, keputusan menjadi perusahaan terbuka bukan menunggu ketika keadaan pasar modal domestik sedang bagus.

"Justru kalau go public pasar modal domestik jadi bagus. Filosofi ini yang saya ingin ada di pemangku kebijakan pengelola BUMN di indonesia," lanjut Tito.

Untuk target IPO, BEI tahun depan menargetkan akan ada 30-40 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di papan utama. Sementara di samping itu, Tito juga mengungkapkan pihaknya pada tahun depan menargetkan akan ada tambahan 20 perusahaan menengah, di antaranya industri kreatif.

"Perusahaan menengah pertengahan tahun sudah akan berjalan. Jika kita sudah selesai, bisa mulai listing pertengahan tahun depan," tambahnya.

Adapun untuk perusahaan BUMN, hingga sekarang sejak awal tahun belum ada satu perusahaan pun yang mendaftarkan IPO di OJK. Meski begitu Deputi Bidang Restrukturasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro optimistis akan ada dua entitas anak BUMN yang menjadi perusahaan terbuka tahun depan.

"Targetnya ada dua anak perusahaan BUMN yang IPO," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement