Jumat 22 May 2015 16:13 WIB

Terang-terangan Berutang, Pemerintah Jokowi Dinilai tak Punya Malu

Rep: C14/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Presiden Joko Widodo
Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto
Presiden Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Centre For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menjelaskan, sudah sangat banyak sumber utang pemerintah Indonesia sehingga sangat mengganggu kedaulatan bangsa.

Berdasarkan pada data dari Kementerian Keuangan pada Maret 2015, posisi utang Indonesia sebesar Rp 2.796 triliun. Uang sebesar itu berasal dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 696 triliun dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 2.099 triliun.

"Utang yang berasal dari pinjaman luar negeri, (adalah) pinjaman bilateral dari Jepang sebesar Rp 219,6 triliun; Perancis sebesar Rp 24,9 triliun; Jerman sebesar Rp 20,4 triliun, dan negara lainnya sebesar Rp 77,92 triliun," kata Uchok Sky Khadafi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/5).

Uchok melanjutkan, utang Indonesia ada pula yang berasal dari pinjaman multilateral. Antara lain, dari Bank dunia sebesar Rp 182,8 triliun; Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar Rp 110,4 triliun; Bank Pembangunan Islam (IDB) sebesar Rp 7,8 triliun, dan lainnya sebesar Rp 2,6 triliun.

Lantaran itu, tegas Uchok, banyaknya utang luar negeri Indonesia ini sangat menganggu kedaulatan negara. Dia menyebut, pemerintah seperti tidak punya keinginan untuk mandiri dan berdikari.

"Tugas pemerintah setiap tahun hanya mencari utang baru, dan banyak pejabat negara juga tidak ada rasa malu menjadi sales untuk melobi dan mencari utang baru tersebut," ujar Uchok.

"Apalagi, Jokowi tidak malu-malu lagi, akan berutang ke Bank Dunia sebesar Rp 143 triliun. Ini benar-benar prestasi yang tidak disukai sejarah," pungkasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement