Kamis 12 Mar 2015 16:00 WIB

Upah Tenaga Kerja Indonesia Mahal dan Produktivitas Rendah

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Demo Buruh. Massa buruh berunjuk rasa di Jalan MH. Thamrin, Jakarta, Rabu (10/12).
Foto: Republika/ Wihdan
Demo Buruh. Massa buruh berunjuk rasa di Jalan MH. Thamrin, Jakarta, Rabu (10/12).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Korea (KOCHAM) C.K.Song mengatakan, upah buruh di Indonesia termasuk yang paling mahal dibanding dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Vietnam dan Myanmar. Selain itu, produktivitas pekerja Indonesia juga dinilai masih rendah.

"Upah tenaga kerja Indonesia lebih mahal dari Vietnam dan Myanmar, tapi kalau dibandingkan dengan Cina hampir sama," ujar Song di Jakarta, Kamis (12/3).

Menurut Song, pemerintah Indonesia perlu membuat kebijakan sistem pengupahan yang berkelanjutan sehingga tidak menyusahkan pelaku usaha dan investor. Song mengatakan, dia hampir saja memindahkan perusahaannya ke Myanmar karena tenaga kerja di negara tersebut masih murah.

Akan tetapi, Song mengurungkan niatnya karena memindahkan perusahaan membutuhkan biaya yang besar, lagipula dia sudah berinvestasi cukup lama di Indonesia.

"Soal upah sebaiknya jangan ada ilegal sweeping seperti demo, karena itu adalah masalah di luar bukan di dalam pabrik," ujar Song.

Song mengatakan, pemerintah Indonesia harus waspada terhadap Myanmar. Pasalnya, sejumlah investor sudah mulai melirik negara tersebut karena tenaga kerjanya murah dan produktivitasnya bagus. Apabila dibandingkan dengan Vietnam, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih rendah yakni hanya 40 jam per minggu. Sementara Vietnam sudah mencapai 48 jam per minggu.

"Iklim investasi di Indonesia masih bagus, namun memang ada sedikit demi sedikit kekurangan yang harus dibenahi," kata Song.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement