Selasa 13 Jan 2015 23:19 WIB

Pemerintah Harus Waspadai Penurunan Drastis Produksi Gula di 2015

Rep: C78/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Petani memeriksa kebun tebu miliknya di kawasan Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, Sabtu (15/2).
Foto: Republika/Adhi Wicaksono
Petani memeriksa kebun tebu miliknya di kawasan Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, Sabtu (15/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Biaya produkai gula di 2015 diperkirakan meningkat hingga 10 persen di 2015, terutama dari peningkatan biaya angkutan. Hal tersebut ialah dampak dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta penurunan produktivitas.

"Kenaikan paling besar ada pada tebang muat angkut yang diperkirakan mencapai 25 persen," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia Tito Pranolo pada Selasa (13/1). Makanya, pemerintah beserta industri gula mesti melakukan upaya nyata untuk mencegah kemungkinan penurunan produksi Gula Kristal Putih (GKP) secara drastis di 2015.

Upaya yang terpenting, kata dia, yakni mendorong kenaikan harga lelang yang dapat menutupi biaya produksi yang semakin meningkat. Upaya lain yang tidak kalah penting dan mendesak yakni pengendalian impor raw sugar dan pengawasan distribusi gula rafinasi.

Dikatakannya, pada 2014 rembesan gula rafinasi yang masuk ke pasar gula konsumsi merupakan salah satu isu utama berkaitan dengan pasar gula domestik. Hal tersebut, kata dia, menandakan kebijakan segmentasi pasar GKP dan GKR belum berjalan efektif.

"Rembesan GKR membuat stok GKP semakin menumpuk di gudang dan membuat harga lelang semakin tertekan," tutur dia. Kejadian ini membuat minat petani untuk menanam tebu berkurang sehingga upaya swasembada gula akan semakin sulit diwujudkan.

Makanya, antisipasi penurunan produksi juga mesti didukung dengan menerapkan praktik terbaik dan budidaya terukur diikuti peningkatan efisiensi dan otomatisasi di pabrik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement