REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Ekonomi Rusia akan berkontraksi pada tahun depan sebagai akibat dari krisis dengan Ukraina, bank pembangunan EBRD memperkirakan pada Kamis, setelah memangkas prediksinya untuk pertumbuhan.
Sementara ekonomi Ukraina akan berkontraksi lebih cepat dari yang diharapkan, pada gilirannya membebani negara berkembang lainnya di kawasan itu, Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD) mengatakan dalam laporan prospek terbarunya.
Ekonomi Rusia akan mengalami kontraksi sebesar 0,2 persen pada 2015, EBRD mengatakan setelah memprediksi pada Mei bahwa mereka (Rusia) akan tumbuh 0,6 persen pada tahun depan.
Bank, didirikan pada 1991 untuk membantu negara-negara bekas blok Soviet seperti Rusia dan Ukraina melakukan transisi ke ekonomi pasar bebas dan demokrasi, mempertahankan perkiraannya pertumbuhan Rusia nol untuk tahun ini.
"Ekonomi Rusia akan berada di bawah tekanan baik dari sanksi-sanksi Barat maupun dari sanksi-sanksi yang Moskow telah kenakan kepada Barat dalam menanggapinya," kata EBRD.
Amerika Serikat dan Uni Eropa pekan lalu menekan Rusia dengan sanksi-sanksi baru yang keras atas "perilaku yang tidak dapat diterima" Moskow di Ukraina.
Dalam beberapa langkah terberat yang belum menghukum Kremlin atas dugaan mengobarkan pemberontakan, Washington menargetkan bank terkemuka Rusia Sberbank -- yang memegang deposito hampir setengah semua penabung Rusia -- dan perusahaan-perusahaan energi dan teknologi terkemuka.
Sementara Moskow telah mengancam untuk melarang penerbangan Uni Eropa dari wilayah udaranya, dan telah menyusun daftar yang menargetkan impor barang konsumsi dan mobil bekas dari Barat.
Ukraina kontraksi
EBRD menambahkan bahwa ekonomi Ukraina diperkirakan akan menyusut sebesar 9,0 persen pada tahun ini, lebih besar dari perkiraan Mei untuk kontraksi 7,0 persen. Produk Domestik Bruto ditetapkan untuk datang pada minus 3,0 persen pada 2015, lembaga yang berbasis di London itu menambahkan.
"Eskalasi turbulensi militer di Ukraina timur menekancberat pada perekonomian dan kebutuhan pendanaan eksternal," kata bank.
Baku tembak sengit meletus di sekitar kubu pemberontak Ukraina, Donetsk, pada Rabu, dengan dua warga sipil tewas hanya sehari setelah anggota parlemen di Kiev menentang tawaran pemerintahan sendiri kepada separatis pro-Rusia.
Hampir 2.900 orang telah tewas dan sedikitnya 600.000 dipaksa meninggalkan rumah mereka di seluruh timur yang dilanda perang, menurut hitungan PBB.
"Sebagai akibat gangguan terhadap produksi dan perdagangan, kerugian pertanian dan mobilisasi militer parsial, Ukraina akan melihat kontraksi tajam sembilan persen pada 2014," kata EBRD.
"Kontraksi itu lebih kecil dari tiga persen yang diperkirakan untuk 2015 karena ekonomi terus menyesuaikan dengan dukungan program IMF, dilengkapi dengan bantuan dari donor dan lembaga keuangan internasional."
Dana Moneter Internasional awal bulan ini memperingatkan bahwa Ukraina mungkin perlu tambahan bantuan 19 miliar dolar AS (14,5 miliar euro) jika gagal memadamkan pemberontakan brutal pro-Kremlin pada akhir tahun depan.
Pemberi pinjaman global baru-baru ini merilis bantuan tahap kedua 1,39 miliar dolar AS dari total bantuan 17,1 miliar dolar AS, meskipun ada "ketidakpastian besar" dan pada asumsi bahwa sekutu Barat negara-negara bekas Soviet akan siap diterjunkan dengan tambahan bantuan jika diminta.
Di tempat lain, krisis "membebani ekonomi-ekonomi wilayah EBRD, dengan hanya pemulihan moderat diharapkan pada 2015 setelah penurunan tajam pertumbuhan pada tahun ini", bank menambahkan dalam laporannya.
Wilayah investasinya -- termasuk bekas negara-negara komunis di Eropa Tengah dan Timur, tetapi yang sekarang terdiri juga dari Turki dan ekonomi berkembang di Afrika utara dan Timur Tengah -- diperkirakan akan tumbuh 1,3 persen gabungan pada 2014, turun dari 2,3 persen pada tahun lalu. Bank memperkirakan tumbuh sebesar 1,7 persen pada 2015.