Sabtu 01 Mar 2014 06:37 WIB

Dolar Melemah Harga Minyak Dunia Naik

Harga minyak dunia melonjak (ilustrasi)
Harga minyak dunia melonjak (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Harga minyak dunia didorong lebih tinggi pada Jumat (Sabtu pagi WIB), terangkat oleh dolar AS yang lebih lemah.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, naik menjadi 102,59 dolar AS per barel, sedikit meningkat 19 sen dari penutupan Kamis.

Di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan April, naik 11 sen menjadi menetap di 109,07 dolar AS per barel.

Pada hari terakhir perdagangan Februari, WTI naik 5,2 persen selama sebulan dan Brent naik 2,3 persen.

Setelah dibuka di wilayah negatif, harga minyak didorong ke wilayah positif karena dolar melemah terhadap mata uang utama lainnya.

"Pelemahan itu (dolar) sedikit mengangkat komoditas," kata Carl Larry dari Oil Outlooks and Opinion. Sebuah greenback yang lemah cenderung mengangkat permintaan minyak mentah yang dihargakan dalam dolar, karena membuat minyak mentah relatif lebih murah.

Departemen Perdagangan AS memangkas estimasi pertumbuhan kuartal keempat negara konsumen minyak mentah terbesar dunia itu menjadi 2,4 persen, dari pembacaan awal 3,2 persen.

Meskipun penurunan itu sedikit lebih curam dari yang diperkirakan, para analis mengatakan angka pertumbuhan moderat hanya sedikit berubah.

Pasar juga terus mengawasi yuan Cina, yang jatuh ke terendah delapan bulan terhadap dolar AS, memicu kekhawatiran tentang daya beli lemah Cina, konsumen energi terbesar dunia.

Meskipun Brent sedikit naik pada Jumat, analis Commerzbank memperkirakan untuk penurunan karena pasokan berlimpah menyusul akhir musim dingin yang sudah dekat di belahan bumi utara dan berkurangnya pengolahan minyak mentah oleh kilang-kilang sehubungan pekerjaan pemeliharaan yang dilakukan.

"Kami percaya bahwa Brent akan terus jatuh lebih jauh menuju tengah koridor perdagangan 100-110 dolar AS per barel selama beberapa minggu ke depan," kata mereka dalam sebuah catatan penelitian.

Investor juga mengamati peristiwa penuh gejolak di Ukraina, di mana presiden pro-Moskow yang digulingkan, Viktor Yanukovych, pada Jumat bersikeras ia tidak digulingkan. Pihak pemerintah pro-Eropa yang baru, sementara itu, mengatakan ada

"invasi bersenjata" di semenanjung Krimea Ukraina yang bergejok oleh tentara Rusia.

Analis JPMorgan Commodities Research mencatat bahwa Ukraina bukanlah produsen minyak utama maupun konsumen minyak.

"Tetapi Ukraina adalah negara transit sangat penting untuk ekspor energi Rusia: lebih dari 70 persen dari aliran gas dan minyak Rusia ke Eropa melalui wilayahnya. Sebaliknya, Eropa merupakan pembeli untuk hampir 90 persen dari ekspor minyak Rusia.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement