Rabu 13 Mar 2013 19:21 WIB

Harga Bawang Menggila, Ekonom: Pemerintah Gagal Revitalisasi Pertanian

Pedagang mengupas bawang merah sebelum dijual di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Ahad (29/1). (Republika/Edwin Dwi Putranto)
Pedagang mengupas bawang merah sebelum dijual di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Ahad (29/1). (Republika/Edwin Dwi Putranto)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, Dahnil Anzar Simanjuntak menilai gejolak harga bawang merah dan putih di pasaran merupakan efek dari kebijakan proteksi pembatasan impor hortukultura.

Menurut dia, kebijakan pembatasan impor hortikultura yang dilakukan menteri pertanian dan menteri perdagangan itu baik untuk membatasi serbuan impor komoditas dari luar negeri.

''Namun, gejolak harga bawang ini berisiko kemungkinan akan diikuti dengan gejolak harga komoditas lainnya,'' ungkap Dahnil kepada Republika Online (ROL), Rabu (13/3). Alasannya, kata dia, pasokan dalam negeri terbatas.

Dahnil berpendapat kebijakan proteksi yang dilakukan pemerintah gagal mendorong revitalisasi pertanian pangan di Indonesia. ''Akibatnya, lagi-lagi kebijakan yang baik tersebut bagi perkembangan ekonomi domestik kita justru mengalami distorsi,'' tuturnya.

Akibatnya, kata Dahnil, mau tidak mau pemerintah harus kembali meninjau ulang kemungkinan impor dari luar negeri untuk mengendalikan inflasi. Alasannya, gejolak harga bawang ini bisa diikuti juga dengan gejolak harga komoditi hortikultura lainnya.

''Memang faktanya pertanian kita tidak siap mengantisipasi pasokan, ditambah lagi dengan permasalahan distribusi dan lainnya.''

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement