Sabtu 19 Jan 2013 15:04 WIB

Bos Sido Muncul Minta Subsidi BBM Dikurangi

Rep: Muhammad Iqbal / Red: Citra Listya Rini
 Petugas mengisikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi atau premium pada mobil mewah di sebuah SPBU (ilustrasi).
Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Petugas mengisikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi atau premium pada mobil mewah di sebuah SPBU (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Permintaan dari pengusaha agar subsidi bahan bakar minyak (BBM) dikurangi kembali mengemuka. Kali ini diutarakan oleh Direktur Utama PT Sido Muncul Irwan Hidayat. 

Menurut Irwan, permasalahan terkait BBM subsidi harus segera dicari jalan keluarnya. "Subsidinya harus dikurangi," tutur Irwan kepada wartawan saat ditemui di Kawasan Pabrik PT Sido Muncul, Sabtu (19/1). 

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, sampai akhir 2012 realisasi subsidi BBM, LPG dan BBN dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 20212 mencapai Rp 211,9 triliun atau 54,2 persen lebih tinggi dibandingkan pagu Rp 137,4 triliun. 

Sedangkan untuk APBN 2013, subsidi BBM, LPG dan BBN direncanakan sebesar Rp 193,8 triliun. Irwan menjelaskan, selama ini BBM bersubsidi hanya dinikmati oleh orang-orang kaya. 

Kenaikan harga BBM secara normal dapat membuat masyarakat menjadi lebih efisien hidupnya. Saat ini, lanjut Irwan, ketidakefisiensi di kalangan masyarakat akibat harga BBM yang terlalu murah. 

"Apa saja yang mahal itu bukan berarti jelek," ujar Irwan.  Meski demikian, Irwan menyadari keputusan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi mengandung unsur politis yang tinggi. 

Terdapat sejumlah kalangan yang memanfaatkan isu ini untuk meningkatkan popularitas. "Tapi sebagai pengusaha, saya tak punya tendensi apa-apa.  Intinya, subsidi itu (lama kelamaan) harus hilang," kata Irwan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement