Senin 17 Dec 2012 17:58 WIB

Dibanding Produk Impor, Kualitas Sudu Indonesia Masih Rendah

Rep: s bowo pribadi/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sapi Perah
Foto: Republika/Wihdan
Sapi Perah

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN—Provinsi Jawa Tengah terus mendorong peningkatan produksi susu sapi segar. Upaya ini dilakukan dengan menyiapkan peningkatan produktifitas susu sapi segar di enam daerah penghasil susu sapi di Jawa Tengah.

Enam daerah tersebut adalahj Kabupaten Boyolali, Klaten, Banyumas, Wonosobo dan Kota Salatiga. Kebijakan ini, sekaligus untuk mempersiapkan program swasembada susu sapi nasional, 2020 mendatang.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dinakeswan) Jawa Tengah, Whitono menegaskan, peternakan sapi perah yang ada di negeri ini baru mampu menopang 30 persen kebutuhan susu segar nasional.

Sisa kebutuhan susu nasional yang mencapai 70 persen masih dipenuhi dari susu sapi impor. Karena itu, pemerintah mencanangkan swasembada susu sapi melalui peningkatan produktifitas peternakan sapi perah lokal.

Ia mengakui langkah ini bukan pekerjaan mudah. Pasalnya kualitas susu sapi di Jawa Tengah masih rendah dibandingkan susu sapi bubuk impor. “Terutama bila digunakan untuk bahan baku susu bayi,” jelasnya.

Data Dinakeswan menyebutkan, produksi susu sapi Jawa Tengah mencapai 280.000 liter per hari. Dari total produksi susu ini, sebanyak 200.000 liter diantaranya terserap untuk industri pengolahan susu (IPS).

Selebihnya, sebesar 80 liter susu produksi di Jawa Tengah ini, dikonsumsi langsung oleh masyarakat dan sebagian lagi untuk asupan anak sapi atau pedhet.

Persoalan lainnya ada pada harga jual susu sapi yang belum seragam di tingkat peternak. Saat ini harga jual susu di tingkat peternak berkisar antara Rp 2.900 hingga Rp 3.400 per liter.

”Perbedaan harga disebabkan karena adanya standarisasi mutu susu dan tambahan biaya operasional antar daerah yang berbeda,” imbuhn Whitono.

Untuk mendapatkan nilai jual susu yang tinggi, pihaknya mendorong peternak memperhatikan beberapa faktor penentu. Seperti kualitas pakan, kualitas kebersihan kandang dan kebersihan tangan saat memerah susu.

"Kami sudah melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada peternak agar menjaga kebersihan saat memerah susu, menyusul susu sapi itu mempunyai nilai gizi tinggi sehingga membuat bakteri sangat cepat berkembang,” tegasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement