Rabu 11 Apr 2012 16:40 WIB

Investor Asing Kian Kepincut Bisnis Properti Indonesia

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Djibril Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pertumbuhan pasar properti dalam negeri lebih kepada membaiknya fundamental perekonomian Indonesia. Chairman Jones Lang LaSalle Indonesia Lucy Rumantir mengatakan sentimen investor di dalam dan luar negeri, khususnya di sektor properti menguatkan iklim investasi di Tanah Air.

Kondisi pasar global saat ini, kata Lucy, menyebabkan Indonesia menjadi pasar alternatif investor luar negeri. Pasalnya, Eropa, Amerika, dan beberapa negara besar di Asia tengah fokus pada usaha keluar dari krisis. "Investor mencari pasar lain sebagai lokasi investasi," katanya di Jakarta, Rabu (11/4).

Indonesia menjadi satu pilihan yang menarik, khususnya di sektor properti. Apalagi, pasca-ditetapkannya status investment grade untuk Indonesia. Pertumbuhan properti di dalam negeri akan terus menarik dan menjadi pilihan investasi yang menguntungkan.

Sepanjang 2011 misalnya, sektor pertambangan menjadi salah satu anak emas yang menjadi incaran dalam transaksi perdagangan saham di bursa. Namun akhir-akhir ini, isu kenaikan pajak sektor tersebut justru memancing investor melirik saham sektor lain, seperti properti.

Aksi pembelian saham-saham sektor properti terus menunjukkan level bagus. Seolah tak terpengaruh sentimen negatif dari penetapan harga down payment (DP) properti yang rencananya dipatok dari 20 persen menjadi 30 persen mulai Juni tahun ini. Khususnya untuk rumah dengan luas tanah di atas 70 meter persegi.

Dalam perdagangan saham Rabu (11/4), saham-saham properti menunjukkan performa bagus. Misalnya PT Ciputra Surya (CTRS) naik 2,56 persen menjadi Rp 1.600 per saham. Berikutnya, PT Adhi Karya (ADHI) yang naik 1,23 persen menjadi Rp 820 per saham, dan PT Wijaya Karya (WIKA) naik 1,14 persen menjadi Rp 890 per saham.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement