JAKARTA — PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan laba kotor sebesar 45,2 juta dolar AS pada sembilan bulan pertama 2026, meningkat 105 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah penurunan pendapatan konsolidasian sebesar 11 persen menjadi 257,3 juta dolar AS.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang belum diaudit untuk periode yang berakhir pada 30 September 2026, margin laba kotor TBS mencapai 18 persen, lebih dari dua kali lipat dibandingkan posisi 8 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang belum diaudit untuk periode yang berakhir pada 30 September 2026, pendapatan TBS mencapai 257,3 juta dolar AS, turun 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pendapatan dari bisnis batu bara yang menjadi bagian dari portofolio lama perseroan.
Meski pendapatan turun, margin laba kotor meningkat menjadi 18 persen dari sebelumnya 8 persen. Sementara itu, margin EBITDA yang disesuaikan mencapai 17 persen, naik enam poin persentase secara tahunan.
Direktur dan Chief Financial Officer TBS Juli Oktarina mengatakan peningkatan profitabilitas mencerminkan perkembangan transformasi bisnis perseroan menuju sektor infrastruktur berkelanjutan.
“Pada sembilan bulan pertama tahun 2026, TBS terus membuktikan bahwa transformasi yang sedang dijalankannya menghasilkan pendapatan yang berkualitas. Meskipun terdapat berbagai tantangan, kami bangga telah dapat mencatatkan peningkatan pada laba kotor serta EBITDA yang disesuaikan serta penyusutan rugi bersih, yang menunjukkan kami mulai menuai imbal hasil finansial dari transisi yang sedang berjalan. Kami tetap berkomitmen untuk melanjutkan transformasi kami seiring terus memperbesar bisnis infrastruktur berkelanjutan kami di Indonesia dan kawasan Asia, sementara pada saat yang sama, tetap mengelola bisnis legacy kami secara bertanggung jawab,” ujarnya.
Perbaikan rugi bersih antara lain dipengaruhi tidak berulangnya beban kerugian divestasi bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara yang dibukukan pada 2025. Pada periode berjalan, rugi bersih masih mencakup beban terkait akuisisi Cora Environment Pte. Ltd. dan biaya satu kali dari pembiayaan kembali pinjaman senior sejumlah entitas bisnis pengelolaan limbah.
TBS juga mencatatkan arus kas dari aktivitas operasi sebesar 20,3 juta dolar AS, berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Per 30 September 2026, saldo kas, termasuk kas yang dibatasi penggunaannya, mencapai 89,6 juta dolar AS.
Pengelolaan limbah dan kendaraan listrik tumbuh
Bisnis infrastruktur berkelanjutan, terutama pengelolaan limbah dan kendaraan listrik, menjadi kontributor utama terhadap pendapatan dan EBITDA yang disesuaikan TBS. Kedua bisnis tersebut secara kolektif menyumbang 66 persen pendapatan konsolidasian dan 71 persen EBITDA yang disesuaikan perseroan.
Pada sektor pengelolaan limbah, TBS membukukan pendapatan sebesar 157,3 juta dolar AS, tumbuh 41 persen secara tahunan. Bisnis tersebut juga mencatatkan peningkatan margin laba kotor sebesar 13,3 persen.
Sepanjang Januari hingga September 2026, bisnis pengelolaan limbah TBS mengumpulkan 755.990 ton limbah dan melayani lebih dari 470 ribu rumah tangga serta pelaku usaha di Indonesia dan Singapura.
Di Singapura, Cora Environment terlibat dalam Beverage Container Return Scheme (BCRS), program pengembalian wadah minuman yang diinisiasi pemerintah setempat untuk mengurangi sampah kemasan plastik dan logam.
Sejak mulai beroperasi dalam skema tersebut pada Agustus 2026 hingga akhir September, lebih dari 30 juta wadah minuman telah dikumpulkan dan diproses melalui fasilitas pemulihan material Cora.
Sementara itu, bisnis kendaraan listrik TBS melalui Electrum, perusahaan patungan dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 120 persen menjadi 12,9 juta dolar AS.