Kamis 29 Oct 2026 16:10 WIB

Proyek Jaringan Listrik ASEAN Butuh 800 Miliar Dolar AS hingga 2050

Integrasi listrik ASEAN membutuhkan penyelarasan regulasi dan skema pembiayaan.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Satria K Yudha
Jaringan listrik (ilustrasi)
Jaringan listrik (ilustrasi)

SINGAPURA -- Pengembangan jaringan listrik terintegrasi ASEAN atau ASEAN Power Grid (APG) diperkirakan membutuhkan investasi hingga 800 miliar dolar AS sampai 2050. Besarnya kebutuhan pendanaan tersebut membuka peluang bagi investor asing, perusahaan teknologi, kontraktor, hingga pengembang infrastruktur energi untuk terlibat dalam proyek kelistrikan lintas negara di Asia Tenggara.

Executive Director ASEAN Centre for Energy (ACE) Dato’ Ir. Razib Dawood mengatakan, pembangunan APG membutuhkan investasi pada berbagai infrastruktur dan teknologi pendukung. Kebutuhan tersebut mencakup jaringan transmisi, kabel bawah laut, sistem penyimpanan energi, hingga teknologi digital untuk mengintegrasikan sistem kelistrikan antarnegara.

“Ini merupakan banyak proyek. Kita perlu mengeksplorasi peluang teknologi maju untuk melaksanakan ASEAN Power Grid,” kata Razib dalam wawancara di sela-sela Singapore International Energy Week (SIEW) 2026, Rabu (28/10/2026).

Menurut Razib, perusahaan dari Cina, Jepang, dan negara lainnya memiliki peluang untuk berpartisipasi dalam pengembangan APG. Keterlibatan tersebut dapat berupa penyediaan teknologi, investasi modal, maupun peran sebagai kontraktor, pemilik proyek, dan pengembang infrastruktur.

Peluang investasi tidak hanya terbatas pada pembangunan jaringan transmisi dan infrastruktur fisik kelistrikan. Pengembangan APG juga membutuhkan perangkat lunak, teknologi informasi, baterai penyimpanan energi, pembangkit listrik tenaga surya, turbin angin, serta berbagai teknologi pendukung lainnya.

Razib mencontohkan pengalaman Cina dalam membangun jaringan transmisi jarak jauh yang menghubungkan wilayah sumber energi dengan pusat permintaan listrik. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi referensi bagi negara-negara ASEAN dalam mengembangkan infrastruktur kelistrikan regional.

Meski demikian, keterlibatan perusahaan asing tetap harus mengikuti mekanisme pengadaan dan ketentuan yang berlaku di masing-masing negara. Razib memperkirakan proyek-proyek APG akan memberikan kesempatan bagi berbagai perusahaan untuk bersaing melalui proses tender.

“Saya yakin negara-negara ASEAN akan menjalankan tender terbuka. Teknologi dan modal merupakan peluang penting bagi pihak asing untuk berkontribusi,” ujarnya.

Razib juga mendorong calon investor untuk mulai menjalin komunikasi dengan perusahaan utilitas dan pengembang listrik swasta atau independent power producer (IPP) di kawasan ASEAN. Komunikasi sejak tahap awal diperlukan agar perusahaan dapat memahami kebutuhan teknologi, persyaratan proyek, serta skema komersial sebelum memasuki proses pengadaan.

Di luar kebutuhan infrastruktur, pengembangan APG menghadapi tantangan dalam penyelarasan regulasi dan mekanisme perdagangan listrik antarnegara. Proyek lintas batas membutuhkan kesepakatan mengenai pembiayaan, kelayakan komersial, perjanjian jual beli listrik, serta harmonisasi standar teknis.

Perbedaan sistem kelistrikan, kepentingan nasional, dan mekanisme pasar di masing-masing negara turut menambah kompleksitas pengembangan APG. Karena itu, keberhasilan proyek percontohan dinilai penting untuk menunjukkan kelayakan komersial sekaligus meningkatkan kepercayaan lembaga pembiayaan.

Razib menilai ASEAN perlu mempercepat pengembangan jaringan listrik regional tanpa harus menunggu kesiapan seluruh negara anggota secara bersamaan. Kerja sama perdagangan listrik bilateral yang telah berjalan dapat menjadi landasan untuk membangun skema multilateral dengan cakupan lebih luas.

Integrasi jaringan listrik memungkinkan energi terbarukan dari negara yang memiliki sumber daya melimpah disalurkan ke wilayah dengan permintaan listrik tinggi. Skema tersebut berpotensi meningkatkan pemanfaatan energi bersih sekaligus mengurangi kebutuhan pembangunan infrastruktur yang kurang efisien.

Selain membuka peluang investasi, pengembangan APG juga membutuhkan peningkatan keterampilan tenaga kerja di sektor energi. Kebutuhan sumber daya manusia mencakup keahlian rekayasa jaringan listrik, pengoperasian sistem penyimpanan energi, hingga pengelolaan teknologi pembangkit energi terbarukan.

Razib menilai pengembangan APG dapat menjadi peluang bagi negara-negara ASEAN untuk memperkuat kapasitas industri dan penguasaan teknologi energi. Keterlibatan investor internasional diharapkan tidak hanya mendukung pembiayaan proyek, tetapi juga mempercepat pengembangan kemampuan teknis di kawasan.

“Teknologi dan modal merupakan peluang penting bagi pihak asing untuk membantu mewujudkan proyek transisi energi besar di kawasan ini,” katanya.

Berita Lainnya

Rekomendasi