Kamis 29 Oct 2026 07:09 WIB

Rp42 Triliun, Cuan Grup Sawit yang Dipanggil Singapura Terkait Karhutla

Perusahaan-perusahaan itu berkantor pusat dan melantai di bursa saham Singapura.

Petugas Manggala Agni Daops Bukit Tempurung memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kebun sawit Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (25/8/2026).
Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
Petugas Manggala Agni Daops Bukit Tempurung memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kebun sawit Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (25/8/2026).

SINGAPURA  — Pemerintah Singapura mulai menelusuri hubungan korporasi di balik kabut asap lintas batas yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Di antara perusahaan yang dimintai keterangan terdapat sejumlah raksasa agribisnis dengan laba tahunan mencapai miliaran dolar AS.

Penelusuran Republika terhadap laporan keuangan tahun buku 2025 menemukan, tujuh kelompok usaha yang terkait dengan daftar perusahaan penerima pemberitahuan otoritas Singapura membukukan laba bersih gabungan sekitar 2,52 miliar dolar AS atau setara Rp42 triliun. Perhitungan tersebut menggunakan kurs indikatif Rp16.700 per dolar AS.

Baca Juga

Kelompok usaha itu meliputi Wilmar International, Golden Agri-Resources, First Resources, Bumitama Agri, Indofood Agri Resources, Kencana Agri, dan TSH Resources. Angka tersebut merupakan laba konsolidasian grup induk, bukan laba dari masing-masing badan usaha yang secara resmi menerima pemberitahuan pemerintah Singapura.

Pada 28 Oktober, dilansir Mothership.sg, delapan pimpinan perusahaan tersebut dipanggil oleh pemerintah Singapura. Diantaranya CEO Wilmar International, Kuok Khoon Hong; Direktur Eksekutif Kencana Agri, Albert Maknawi; CEO Golden Agri, Franky Oesman Widjaja; Senior Advisor Sinar Mas Group for APP Ltd, Bernard Tan; CEO First Resources, Ciliandra Fangiono; Chairman TSH Resources Berhad, Kelvin Tan Aik Pen; CEO Indofood Agri Resources, Mark Julian Wakeford; dan CEO Bumitama Agri, Lim Gunawan Hariyanto.

Wilmar menjadi yang paling banyak meraup cuan dengan laba bersih 1,41 miliar dolar AS sepanjang 2025. Golden Agri-Resources membukukan 400,2 juta dolar AS, sedangkan First Resources mencatatkan 353,9 juta dolar AS. Bumitama Agri memperoleh laba sekitar 211 juta dolar AS.

Sementara itu, Indofood Agri Resources membukukan laba yang diatribusikan kepada pemegang saham induk sekitar 101 juta dolar Singapura. Kencana Agri mencatat laba setelah pajak 18,4 juta dolar AS. TSH Resources, induk dari dua entitas yang masuk daftar pemberitahuan, membukukan laba yang diatribusikan kepada pemegang saham sebesar 183,4 juta ringgit Malaysia.

photo
Petugas Manggala Agni Daops Bukit Tempurung memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kebun sawit Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (25/8/2026). - (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Singapura periksa hubungan korporasi

Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) pada 23 Oktober 2026 mengumumkan pemberitahuan kepada 10 perusahaan terdaftar di Singapura yang bergerak di bidang perkebunan sawit dan kehutanan. Mereka diminta menyerahkan dokumen dan informasi mengenai konsesi lahan di Indonesia, hubungan dengan perusahaan terafiliasi, serta langkah pencegahan dan penanganan kebakaran selama musim kering.

Daftar itu mencakup Asia Pulp & Paper Company Limited, Asia Pulp & Paper Company (China) Limited, Bumitama Agri, Golden Agri International, First Resources, Indofood Agri Resources, Kencana Agri, TSH Global Plantation, TSH Oversea, dan Wilmar International.

Langkah ini berbeda dari pemberitahuan tindakan pencegahan yang sebelumnya dikirimkan kepada 10 perusahaan Indonesia. Dalam tindakan tersebut, NEA meminta perusahaan mengerahkan personel pemadam, menghentikan aktivitas pembakaran, dan menyampaikan rencana untuk memadamkan api atau mencegah kebakaran berulang.

Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Singapura diminta memberikan informasi agar otoritas dapat menelusuri hubungan antara entitas di Singapura dan Indonesia, termasuk lokasi konsesi serta upaya pengendalian kebakaran.

Regulator bursa Singapura juga meminta penjelasan lebih lanjut dari sejumlah perusahaan terbuka mengenai kebijakan pencegahan kebakaran, dasar penilaian efektivitas kebijakan, hubungan dengan perusahaan yang menerima pemberitahuan, serta kemungkinan dampak material kebakaran terhadap bisnis.

Pemberitahuan tersebut bukan putusan bahwa perusahaan penerimanya bersalah. Pemerintah Singapura menyatakan proses pengumpulan informasi diperlukan untuk membangun bukti sebelum menentukan apakah terdapat perusahaan yang menyebabkan atau turut berkontribusi terhadap pencemaran kabut asap lintas batas.

View this post on Instagram

A post shared by Mothership (mothershipsg)

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi