JAKARTA -- Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia Dony Oskaria blak-blakan mengenai sejumlah aksi bisnis BUMN, termasuk rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Dalam peta jalan yang disampaikan, Dony menyebut IPO BUMN belum akan terjadi pada tahun ini.
"Mungkin paling cepat itu 2028. Setelah ditata, kalau nilainya sudah pas, nilainya sudah cocok, baru kita IPO-kan," ujar Dony usai menghadiri acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Saat ini, lanjut Dony, Danantara dan BP BUMN fokus pada sejumlah agenda transformasi strategis BUMN. Dony mengatakan, pijakan awal transformasi BUMN dimulai dari program restrukturisasi dan konsolidasi pada tahun ini, kemudian berlanjut pada transformasi sumber daya manusia (SDM) dan budaya perusahaan pada tahun depan.
Berikutnya, Dony menyampaikan, BUMN akan bergerak pada pengembangan inovasi melalui teknologi pada 2028 serta penciptaan nilai, dengan sebagian perusahaan BUMN yang berkinerja baik akan melantai di bursa.
"Kita akan membawa perusahaan-perusahaan tersebut ke go public pada 2029. Kemudian pada 2030 kita berharap hanya akan tersisa perusahaan-perusahaan kelas dunia di bawah Danantara Indonesia," lanjut Dony.
Dony menyampaikan, proses perbaikan BUMN akan berjalan secara bertahap dan menyeluruh. Dony mengatakan, dari 1.074 BUMN, banyak yang bergerak di sektor bisnis yang sama hingga beroperasi sebagai perusahaan berlapis. Sebagian besar perusahaan tersebut mengambil keuntungan dari satu sama lain.
"Bisa dibayangkan, ketika kita membangun fiber optik di Telkomsel untuk IndiHome, kita harus melalui empat perusahaan, empat perusahaan yang berbeda. Masing-masing perusahaan mengambil keuntungan dari transaksi tersebut," sambung Dony.
Untuk itu, ucap Dony, Danantara Indonesia memiliki pekerjaan rumah (PR) besar dalam membangun tata kelola BUMN terlebih dahulu sebelum melangkah maju untuk go public. Dony menyampaikan, 97 persen dividen hanya berasal dari delapan BUMN dari total 1.074 BUMN.
"Lima puluh dua persen dari 1.074 perusahaan tersebut mengalami kerugian. Kerugiannya sekitar 1,5 miliar dolar AS (kurs Rp 18.130, sekitar Rp 27,19 triliun) setiap tahun, merupakan total kerugian perusahaan-perusahaan di bawah Danantara," kata Dony.