Jumat 23 Oct 2026 17:29 WIB

Rebound IHSG Berlanjut, Investor Respons Positif Kebijakan Bursa

IHSG ditutup menguat 51,36 poin atau 0,95 persen ke posisi 5.439,26.

Layar digital menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Foto: Republika/Prayogi
Layar digital menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (31/7/2026).

JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (23/10/2026) sore ditutup menguat, didukung respons pelaku pasar terhadap kebijakan regulator yang mengecualikan saham-saham High Shareholding Concentration (HSC) dari indeks.

IHSG ditutup menguat 51,36 poin atau 0,95 persen ke posisi 5.439,26. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 2,48 poin atau 0,46 persen ke posisi 547,05.

Baca Juga

“IHSG menguat tampaknya didukung reformasi Bursa yang akan mengecualikan saham yang diklasifikasikan memiliki High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks komposit mulai 2 November tahun ini,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico, dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Dari dalam negeri, Nico mengatakan kebijakan terkait saham HSC tersebut menyusul peringatan MSCI bahwa ekuitas Indonesia berisiko diturunkan statusnya dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

BEI mencatat saat ini terdapat 80 saham kategori HSC. Sejumlah saham dalam kategori tersebut juga dikenai sanksi denda akibat pelanggaran hukum pasar modal.

OJK telah mengenakan denda utama dengan total nilai Rp 2,1 triliun, dengan rincian Rp 1,5 triliun dalam kasus DSSA, Rp 500 miliar dalam kasus BREN, dan Rp 100 miliar dalam kasus CUAN.

Selain kebijakan HSC, BEI juga mengumumkan inisiatif penambahan keterangan afiliasi saham dengan kepemilikan 1 persen.

Sebelumnya, BEI telah menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) saham menjadi asimetris, dari sebelumnya sebesar 15 persen menjadi 7 persen, mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.

Sementara itu, Nico memproyeksikan langkah investasi Danantara Indonesia di pasar saham akan menjadi pendorong kuat bagi pergerakan saham-saham BUMN.

Ia menyebutkan, apabila aksi beli tersebut berjalan konsisten dan diiringi peningkatan kinerja perusahaan, dampaknya terhadap sentimen pasar akan semakin solid.

“Intervensi Danantara ini dipandang positif oleh investor karena menjadi bukti nyata adanya dukungan terhadap emiten pelat merah yang saat ini memiliki valuasi murah serta prospek bisnis jangka panjang yang menjanjikan,” ujar Nico.

Dari mancanegara, terdapat sentimen terkait kekhawatiran pelaku pasar terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI) yang memicu aksi jual besar-besaran saham-saham teknologi.

Nico mengatakan aksi jual global di sektor AI dan semikonduktor membebani saham-saham teknologi. Produsen semikonduktor, produsen cip memori, dan perusahaan terkait AI lainnya mencatat penurunan signifikan.

Selain itu, sentimen pasar semakin tertekan oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menyusul laporan bahwa AS dan Israel telah menyusun rencana untuk kemungkinan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu bulan depan.

Sebelumnya, militan Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan baru-baru ini terhadap pelabuhan Yanbu di Laut Merah, Arab Saudi, serta serangan mematikan yang menargetkan ladang minyak dan bandara di negara pengekspor minyak mentah terbesar di dunia tersebut.

“Sehingga ini meningkatkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah, meningkatkan risiko inflasi,” ujar Nico.

IHSG dibuka menguat dan bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor menguat. Penguatan dipimpin sektor barang konsumen primer sebesar 3,24 persen, diikuti sektor industri dan energi yang masing-masing naik 2,95 persen dan 2,74 persen.

Sementara itu, satu sektor melemah, yaitu sektor kesehatan, yang turun 0,15 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar adalah WMUU, FAST, PTSP, TOBA, dan KONI. Sementara itu, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah BTEK, BUKK, LINK, HATM, dan SMLE.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1,80 juta kali transaksi, dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 43,14 miliar lembar saham senilai Rp 16,16 triliun. Sebanyak 506 saham naik, 192 saham turun, dan 265 saham tidak bergerak.

Bursa saham regional Asia pada Jumat sore bergerak bervariasi. Indeks Nikkei melemah 0,25 persen ke 62.752,00, indeks Hang Seng menguat 0,69 persen ke 23.093,37, indeks Shanghai menguat 0,89 persen ke 3.690,48, indeks Kospi menguat 0,30 persen ke 5.550,30, dan indeks Strait Times menguat 0,04 persen ke 5.417,36.

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi