Rabu 21 Oct 2026 12:51 WIB

Transformasi Peruri, dari Pencetak Uang Menjadi Perusahaan Teknologi

Peruri tak gantikan program digitalisasi yang telah dibangun kementerian lembaga.

Rep: M. Nursyamsyi/ Red: Gita Amanda
Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Polkam) Dudung Abdurachman dalam Peruri Digital Summit 2026 bertajuk Building Technology of The Future di Taman Kota Peruri, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Foto: Muhammad Nursyamsi/Republika
Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Polkam) Dudung Abdurachman dalam Peruri Digital Summit 2026 bertajuk Building Technology of The Future di Taman Kota Peruri, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) terus mempercepat transformasi bisnis dari perusahaan yang selama ini dikenal sebagai pencetak uang dan dokumen sekuriti menjadi perusahaan teknologi yang berfokus pada keamanan, keaslian, dan kepercayaan digital. Direktur Utama Peruri Teguh Arief Indratmoko mengatakan transformasi tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan transaksi dan identitas masyarakat dari medium fisik menuju ekosistem digital.

"Peruri hari ini telah bertransformasi tidak hanya sebagai perusahaan pencetak uang dan dokumen security fisik, tetapi lebih dari itu yaitu menjadi perusahaan teknologi penjamin keaslian dokumen elektronik sistem dan identitas digital," ujar Teguh dalam Peruri Digital Summit 2026 bertajuk "Building Technology of The Future" di Taman Kota Peruri, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Teguh mengatakan transformasi Peruri tidak mengubah mandat utama perusahaan untuk menjaga kepercayaan negara dan masyarakat. Teguh menyampaikan Peruri kini memperluas kapabilitas tersebut ke ranah digital dengan memastikan dokumen elektronik, sistem, dan identitas digital tetap autentik dan aman.

Teguh menyampaikan transformasi tersebut tercantum dalam melalui Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2023 yang memberikan mandat kepada Peruri sebagai GovTech. Dalam peran tersebut, ucap Teguh, Peruri menjadi akselerator digital nasional untuk mendukung pembangunan sistem pemerintahan berbasis elektronik yang terintegrasi, andal, dan memiliki keamanan tinggi.

Teguh menegaskan Peruri tidak menggantikan program digitalisasi yang telah dibangun kementerian dan lembaga. Sebaliknya, ucap Teguh, Peruri berperan mengintegrasikan berbagai program tersebut sehingga dapat membentuk ekosistem digital pemerintahan yang lebih terpadu.

"Sebagai GovTech Peruri hadir menjadi akselerator digital nasional guna mendukung transformasi sistem pembangunan berbasis elektronik yang berintegrasi andal dan bersandar keamanan tinggi tanpa harus mengubah program digitalisasi yang sudah ada di kementerian masing-masing," ucap Teguh. 

Menurut Teguh, perubahan lanskap teknologi juga membuat infrastruktur digital menjadi bagian yang semakin strategis. Teguh mengatakan infrastruktur digital tidak lagi sekadar fasilitas pendukung, tetapi telah menjadi bagian penting dalam operasional perusahaan dan pelayanan publik. 

Dalam menjalankan transformasi tersebut, Teguh memaparkan, Peruri mengembangkan lima dimensi strategis, yakni keamanan, keunggulan teknologi, tata kelola, keandalan layanan, serta kolaborasi strategis. Teguh menjelaskan lima aspek tersebut bertujuan membangun perusahaan teknologi yang mampu menghadirkan perlindungan berlapis, mengadopsi inovasi mutakhir, menjaga transparansi dan akuntabilitas, serta memastikan kualitas layanan secara konsisten.

"Transformasi Peruri pada akhirnya tidak hanya ditujukan untuk mengembangkan bisnis perusahaan, tetapi juga memperkuat kepercayaan dan kedaulatan digital Indonesia," kata Teguh. 

photo
Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Polkam) Dudung Abdurachman dalam Peruri Digital Summit 2026 bertajuk Building Technology of The Future di Taman Kota Peruri, Jakarta, Rabu (21/10/2026). - (Muhammad Nursyamsi/Republika)

Di tempat yang sama, Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Polkam) Dukung Abdurachman mengatakan transformasi digital ini bukan lagi pilihan, melainkan realitas geopolitik. Dudung menyampaikan Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang luar biasa, namun di balik peluang emas tersebut tersimpan risiko keamanan yang sangat tinggi. 

"Keamanan nasional hari ini tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer di darat, laut, maupun udara. Ketahanan nasional kita saat ini sangat bergantung pada kedaulatan kita," ujar Dudung. 

Dudung menyebut ancaman siber dan serangan terhadap sistem informasi nasional dapat menjadi ancaman langsung terhadap stabilitas politik dan keamanan negara. Oleh karena itu, Dudung menyebut transformasi digital harus berjalan beriringan dengan penguatan aspek security. 

"Kita tidak boleh menjadi bangsa yang gagap atau sekedar menjadi pasar bagi teknologi asing tanpa memiliki kendali penuh atas keamanan data kita sendiri," lanjut Dudung. 

Dudung menegaskan peran krusial Peruri menjadi simbol kepercayaan negara dalam mencetak mata uang dan dokumen security fisik. Dudung mengapresiasi transformasi Peruri menjadi high-tech security company dan menjaga jamin keadilan dan keamanan dokumen serta identitas digital.

"Peruri adalah benteng kepercayaan digital, Indonesia melalui penyediaan solusi seperti sertifikat elektronik, tanda tangan digital, hingga penjaminan infrastruktur atau pemerintahan digital (GovTech)," ucap Dudung. 

Dudung menyebut Peruri memegang kunci penting dalam menjaga integritas data negara. Pemerintah, lanjut Dudung, berkomitmen memperkuat regulasi dan arsitektur keamanan saber nasional.

"Peruri digital Summit 2026 ini harus menjadi katalisator yang mempertemukan inovasi teknologi dari sektor swasta, kebijakan strategi dari pemerintah, dan kapabilitas keamanan dari BUMN untuk membangun ekosistem digital," kata Dudung. 

Berita Lainnya

Rekomendasi