REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan penguatan di level Rp 17.600-an per dolar AS, seiring dengan adanya sejumlah sentimen positif yang memengaruhinya. Di antaranya proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada tahun depan.
Mengutip Bloomberg, rupiah menguat 37 poin atau 0,21 persen menuju level Rp 17.642 per dolar pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026). Pada perdagangan sebelumnya, Mata Uang Garuda berada di posisi Rp 17.679 per dolar AS.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat, ada beberapa sentimen internal yang mendongkrak penguatan rupiah, seperti upaya pemerintah dalam mendorong perekonomian kelas menengah untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menyebut, pemerintah selama ini telah menggelontorkan anggaran besar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Namun, kondisi berbeda dialami kelas menengah yang belum mendapatkan dukungan cukup. Salah satu persoalan yang disorot pemerintah adalah penurunan pendapatan dari kelompok tersebut. Sehingga, salah satu cara untuk mengangkat kembali kondisi kelas menengah adalah mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
Selain itu, lanjutnya, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini rata-rata masih di kisaran 5 persen. Kondisi tersebut belum cukup kuat untuk mendorong industrialisasi dan menciptakan lapangan kerja formal dalam jumlah besar.
“Oleh karena itu guna untuk penciptaan lapangan kerja formal semakin kuat, maka pertumbuhan ekonomi perlu didorong hingga di atas 6-6,5 persen. Dampaknya investasi asing kembali masuk dan membangun infrastruktur serta membuka lapangan kerja baru dampaknya pendapatan masyarakat kelas menengah semakin meningkat. Hasilnya akan tercipta masyarakat kelas menengah baru dengan pendapatan yang lebih baik,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat.
Namun, lanjutnya, para ekonom menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027 tidak mudah dicapai di tengah tren suku bunga yang kembali meningkat. Investasi akan menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan. Namun, kondisi suku bunga yang meningkat menjadi tantangan bagi pemerintah dan pelaku usaha, ditambah tensi geopolitik global belum tentu selesai tahun depan.