Kamis 03 Sep 2026 17:13 WIB

Rupiah Menguat Seiring Data Tenaga Kerja AS Lebih Lemah dari Perkiraan

Penguatan rupiah dipengaruhi data ketenagakerjaan swasta AS.

Warga membeli uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah dibuka melemah 0,08 persen ke level Rp 18.064 per dolar AS. Pada sekitar pukul 12.55 WIB, mata uang Garuda terpantau bergerak fluktuatif di posisi Rp 18.035 per dolar AS. Namun pada penutupan perdagangan hari ini terjadi perubahan. Nilai tukar (kurs) rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen. Posisi rupiah naik menjadi Rp18.036 per dolar AS dibanding kurs pada penutupan sebelumnya Rp18.049 per dolar AS.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga membeli uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah dibuka melemah 0,08 persen ke level Rp 18.064 per dolar AS. Pada sekitar pukul 12.55 WIB, mata uang Garuda terpantau bergerak fluktuatif di posisi Rp 18.035 per dolar AS. Namun pada penutupan perdagangan hari ini terjadi perubahan. Nilai tukar (kurs) rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen. Posisi rupiah naik menjadi Rp18.036 per dolar AS dibanding kurs pada penutupan sebelumnya Rp18.049 per dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (3/9/2026), bergerak menguat 84 poin atau 0,47 persen menjadi Rp 17.679 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.763 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi data ketenagakerjaan swasta AS yang lebih lemah dari perkiraan. “Data ketenagakerjaan swasta AS lebih lemah dari perkiraan, sehingga ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian,” ujarnya di Jakarta, Kamis.

Baca Juga

Data ADP Employment Change menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta bertambah 38 ribu pada bulan Agustus, berada di bawah perkiraan 47 ribu dan angka kenaikan sebelumnya sebesar 46 ribu. Di sisi lain, lanjut Amru, harga minyak yang mulai terkoreksi dari level tingginya turut mengurangi tekanan terhadap mata uang kawasan.

Dia berpendapat sentimen negatif dari eskalasi konflik AS-Iran belum menjadi faktor yang dominan terhadap pergerakan rupiah.

Kendati konflik tersebut meningkatkan ketidakpastian dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak, dolar AS disebut justru mengalami koreksi. Indeks DXY bergerak melemah di area 99,27, sehingga memberikan ruang bagi rupiah dan sejumlah mata uang Asia untuk menguat.

“Dengan demikian, penguatan rupiah pada Kamis lebih mencerminkan pelemahan dolar AS dan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS, sementara risiko dari konflik AS-Iran tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan,” kata Amru.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp 17.689 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.770 per dolar AS.

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi