Senin 31 Aug 2026 08:51 WIB

Ekonom: Indonesia Perlu Perkuat Sektor Eksternal untuk Stabilkan Rupiah

Ekonom soroti cadangan devisa yang dinilai belum cukup kuat jadi penyangga rupiah.

Karyawan menghitung uang dollar di money changer PT Valuta Artha Mas, ITC Kuningan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke posisi Rp16.865 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025) usai libur Lebaran. Diketahui, penurunan nilai rupiah merupakan dampak dari kebijakan baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menerapkan tarif balasan atau resiprokal terhadap ratusan negara. Trump telah mengumumkan tambahan tarif untuk produk impor asal sejumlah negara, termasuk Indonesia sebesar 32 persen yang mulai berlaku penuh per 9 April 2025. Sejumlah mata uang Asia turut melemah. Yuan China melemah 0,17%, rupee India melemah 0,71%, dolar Hong Kong melemah 0,04% dan ringgit Malaysia melemah 0,16%.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menghitung uang dollar di money changer PT Valuta Artha Mas, ITC Kuningan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke posisi Rp16.865 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025) usai libur Lebaran. Diketahui, penurunan nilai rupiah merupakan dampak dari kebijakan baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menerapkan tarif balasan atau resiprokal terhadap ratusan negara. Trump telah mengumumkan tambahan tarif untuk produk impor asal sejumlah negara, termasuk Indonesia sebesar 32 persen yang mulai berlaku penuh per 9 April 2025. Sejumlah mata uang Asia turut melemah. Yuan China melemah 0,17%, rupee India melemah 0,71%, dolar Hong Kong melemah 0,04% dan ringgit Malaysia melemah 0,16%.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekonom Senior Didik J Rachbini menilai sistem dan kebijakan ekonomi Indonesia perlu lebih berorientasi keluar (outward looking) dengan memperkuat sektor eksternal. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat cadangan devisa sekaligus menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil.

Didik mengatakan Indonesia membutuhkan lebih banyak transaksi bisnis yang menghasilkan pendapatan signifikan dari luar negeri, bukan hanya mengandalkan konsumen domestik. Menurut dia, ekonomi domestik yang sangat dominan hanya mendorong perputaran rupiah di dalam negeri.

Baca Juga

“Sementara itu, ekonomi perlu mengembangkan kebijakan ekonomi yang berbasis ekspor yang akan mendatangkan cadangan devisa dolar yang besar. Ini yang sebenarnya dibutuhkan Indonesia untuk mendukung nilai tukar yang kuat,” kata Didik dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Menurut Didik, ekonomi Indonesia yang berputar di lingkaran domestik dengan basis jumlah penduduk dan kelas menengah yang besar merupakan salah satu kelemahan mendasar selama ini.

Ketika masyarakat Indonesia membeli produk di dalam negeri, sebagian besar transaksi tersebut hanya menjadi perputaran perekonomian domestik dalam bentuk dan basis rupiah.

Didik tidak memungkiri skala kegiatan ekonomi domestik tersebut menciptakan lapangan kerja, memberikan keuntungan bagi perusahaan, dan mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Namun, aktivitas tersebut tidak secara langsung mendatangkan devisa segar ke dalam negeri.

Kondisi itu membuat nilai tukar rupiah tetap rentan karena fondasi ekonomi masih didominasi sektor domestik.

“Dengan struktur ekonomi yang berorientasi ke dalam dan lemah dalam orientasi keluar, maka wajar cadangan devisa Indonesia tergolong paling lemah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya,” kata Didik.

Cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar 145,3 miliar dolar AS pada akhir Juli 2026. Didik mencatat angka tersebut masih jauh dibandingkan dengan cadangan devisa negara kecil seperti Singapura yang mencapai sekitar 426,2 miliar dolar AS.

Thailand, yang mata uangnya jatuh terjungkal pada 1998, memiliki cadangan devisa dua kali Indonesia, yakni sekitar 279,2 miliar dolar AS. Sementara itu, Malaysia yang memiliki jumlah penduduk lebih kecil mempunyai cadangan devisa sekitar 132,6 miliar dolar AS.

“Bagi negara sebesar Indonesia, cadangan devisa sebesar ini tidak cukup dan bahkan terlalu kecil untuk menjadi penyangga eksternal,” jelas Didik.

Menurut Didik, besarnya pasar domestik memang memungkinkan ekonomi Indonesia terus tumbuh meskipun nilai tukar rupiah terus mengalami depresiasi.

“Tetapi, tanpa fondasi daya saing di sektor luar negeri dan hanya dengan fondasinya pasar domestik, maka lima tahun ke depan jangan harap BI bisa menjadikan rupiah menjadi stabil dan kuat. Apalagi hanya dengan memainkan instrumen kebijakan suku bunga,” kata dia.

 

sumber : ANTARA
Berita Lainnya

Rekomendasi