Rabu 16 Sep 2026 09:42 WIB

IHSG Menguat 0,55 Persen, Investor Cermati Suku Bunga The Fed dan Harga Minyak

Penguatan terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap The Fed.

Layar digital menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (31/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona hijau pada perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 0,80 persen atau 49,762 poin ke level 6.236,126, sekaligus menutup perdagangan akhir Juli di zona hijau.
Foto: Republika/Prayogi
Layar digital menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (31/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona hijau pada perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 0,80 persen atau 49,762 poin ke level 6.236,126, sekaligus menutup perdagangan akhir Juli di zona hijau.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (16/9/2026) pagi bergerak menguat di tengah meningkatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed. Dibuka melemah, IHSG pada pukul 09.15 WIB bergerak menguat 35,64 poin atau 0,55 persen ke posisi 6.496,79. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,86 poin atau 0,29 persen ke posisi 652,62.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.440-6.600,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, Rabu

Baca Juga

Dari mancanegara, Nico menjelaskan pelaku pasar bertaruh dengan kombinasi ketidakpastian akan perang AS dengan Iran, harga minyak melewati 100 dolar AS per barel, inflasi yang berpotensi terus naik, imbal hasil obligasi US Treasury 10y yang melewati 5 persen dan berada di level 5,04 persen.

Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, data CME FedWatch melaporkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada rapat FOMC September 2026 telah menembus kisaran 92-93 persen.

“Kondisi tersebut membuat The Fed sulit rasanya untuk tidak menaikkan tingkat suku bunganya,” ujar Nico.

Apabila The Fed justru menahan tingkat suku bunga acuannya, Nico menilai tentu saja pelaku pasar dan investor akan tetap menuntut imbal hasil obligasi US Treasury yang jauh lebih tinggi.

Di sisi lain, AS dan China tengah berdiskusi mengenai pengurangan tarif pada beberapa barang tertentu, termasuk energi dan produk pertanian dari AS. Meskipun terbatas, namun perdagangan bilateral ini berpotensi memberikan pengaruh lebih dari 400 miliar dolar AS dalam delapan bulan pertama pada tahun ini.

“Sehingga kami yakin adanya sebuah harapan baru bahwa gencatan perang dagang berpotensi ditambah satu tahun lagi,” ujar Nico.

Nico menyebut China juga memenuhi komitmennya untuk membeli 25 juta ton kedelai dari AS setiap tahunnya hingga 2028 mendatang. Selain itu, China juga berkomitmen untuk membeli produk pertanian lainnya di luar kedelai dengan nilai hampir 17 miliar dolar AS.

 

sumber : ANTARA
Berita Lainnya

Rekomendasi