Selasa 01 Sep 2026 14:30 WIB

NTP Tembus Level Tertinggi 129,19, Gabah dan Kelapa Sawit Jadi Pendorong Utama

Gabah dan kelapa sawit menjadi dua komoditas dominan yang mendorong penguatan harga.

Nilai Tukar Petani (NTP) nasional kembali mencatat level tertinggi pada Agustus 2026 dengan mencapai 129,19, naik 1,05 persen dibandingkan Juli 2026 sebesar 127,84.
Foto: dok Kementan
Nilai Tukar Petani (NTP) nasional kembali mencatat level tertinggi pada Agustus 2026 dengan mencapai 129,19, naik 1,05 persen dibandingkan Juli 2026 sebesar 127,84.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai Tukar Petani (NTP) nasional kembali mencatat level tertinggi pada Agustus 2026 dengan mencapai 129,19, naik 1,05 persen dibandingkan Juli 2026 sebesar 127,84. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat gabah dan kelapa sawit menjadi dua komoditas dominan yang mendorong penguatan harga yang diterima petani, bersama karet dan ayam ras pedaging. Peningkatan ini menunjukkan posisi tukar dan daya beli petani semakin menguat seiring kenaikan harga hasil pertanian yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya yang harus dikeluarkan petani.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kenaikan NTP pada Agustus 2026 didorong oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,14 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang hanya sebesar 0,09 persen.

Baca Juga

"Peningkatan NTP karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,14 persen, lebih tinggi kenaikannya dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani yang naik sebesar 0,09 persen," kata Ateng dalam Rilis BPS, Selasa (1/9).

Menurut Ateng, komoditas yang dominan mendorong kenaikan harga yang diterima petani secara nasional adalah gabah, kelapa sawit, karet, dan ayam ras pedaging. Komoditas-komoditas tersebut menjadi motor utama penguatan NTP pada Agustus tahun ini.

“Komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani secara nasional yaitu gabah, kelapa sawit, karet, dan juga ayam ras pedaging,” jelasnya.

Data BPS menunjukkan kenaikan NTP terjadi pada mayoritas subsektor pertanian. Subsektor tanaman pangan mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,62 persen, diikuti tanaman perkebunan rakyat 1,53 persen, peternakan 0,96 persen, dan perikanan 0,69 persen. Sementara itu, subsektor hortikultura mengalami penurunan sebesar 2,84 persen.

Di tengah potensi musim kering yang mengancam sejumlah sentra produksi, kesejahteraan petani tanaman pangan tetap menunjukkan penguatan. Hal ini tercermin dari naiknya Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 1,62 persen pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh membaiknya harga komoditas utama yang dihasilkan petani, terutama gabah dan palawija.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi