Rabu 26 Aug 2026 18:49 WIB

Indonesia Bisa Jadi Penentu Harga Komoditas Dunia, Ini Syaratnya

Penguatan data menjadi kunci Indonesia membentuk acuan harga global.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Satria K Yudha
Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) Yazid Kanca Surya.
Foto: Dian Fath/Republika
Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) Yazid Kanca Surya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia berpeluang menjadi acuan harga komoditas dunia dalam beberapa bulan ke depan. Peluang tersebut terbuka jika pemerintah memperkuat data produksi, pasokan, permintaan, dan transaksi komoditas di dalam negeri.

Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) Yazid Kanca Surya mengatakan, harga komoditas dapat menjadi acuan ketika pelaku pasar mulai mempercayai dan menggunakan harga yang terbentuk di Indonesia.

Baca Juga

“Kalau semuanya dibuat dengan baik, dalam beberapa bulan kita bisa jadi price reference,” ujar Kanca dalam JFX Media Gathering 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Menurut Kanca, Indonesia memiliki modal kuat karena menjadi produsen utama sejumlah komoditas. Namun, kapasitas produksi tersebut perlu didukung data yang lengkap dan akurat agar kondisi pasar domestik dapat menjadi rujukan pelaku pasar global.

Data yang dibutuhkan mencakup produksi, produktivitas, luas lahan, usia tanaman, hingga perdagangan komoditas. Data tersebut diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi pasokan dan permintaan secara lebih utuh.

“Kalau kita tidak tahu berapa banyak supply yang kita ada, kita hanya dapat melihat demand. Harganya tidak akan bisa ditentukan dengan baik,” katanya.

Kanca mencontohkan komoditas sawit. Indonesia merupakan salah satu produsen sawit terbesar dunia, tetapi pelaku pasar asing masih menggunakan data dari negara lain sebagai salah satu rujukan.

Menurut dia, pemerintah perlu memiliki pusat data komoditas yang mencakup produksi hingga perdagangan. Ketersediaan data tersebut akan membantu pasar melihat kondisi pasokan, permintaan, dan harga yang terbentuk di Indonesia.

Pengalaman perdagangan timah di JFX menunjukkan harga acuan dari Indonesia mulai mendapat perhatian pembeli internasional. Pelaku pasar tidak hanya melihat harga dari bursa luar negeri, tetapi juga harga yang terbentuk di JFX.

“Kalau orang dari luar negara sudah mulai menggunakan harga itu, itu akan menjadi benchmark,” ujar Kanca.

Ia menilai pola tersebut dapat diterapkan pada komoditas lain, termasuk sawit. Dengan basis produksi yang besar dan pasar domestik yang diperkuat, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi penghasil komoditas, tetapi juga menjadi tempat terbentuknya acuan harga.

“Kalau dalam beberapa bulan kita sudah bisa memberi harga kepada dunia, itu sudah bagus. Yang penting semua pelakunya harus mendukung inisiatif yang dilakukan pemerintah,” kata Kanca.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi