Kamis 13 Aug 2026 10:30 WIB

Perusahaan Lokal Bidik Pasar Software Enterprise dengan Model Kepemilikan

Kebutuhan kendali data membuka ruang baru bagi pemain domestik.

Kode pemrograman software (Ilustrasi)
Foto: websoftwareqa.com
Kode pemrograman software (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pasar perangkat lunak enterprise di Indonesia membuka ruang bagi perusahaan teknologi lokal untuk menawarkan model bisnis di luar skema lisensi tahunan. Salah satu strategi yang mulai dikembangkan adalah menjual sistem dengan kepemilikan penuh, termasuk source code, sekaligus menawarkan integrasi kecerdasan buatan (AI) dengan sistem inti perusahaan.

Founder dan Direktur PT Ilmuprogram Teknologi Informasi Wahyu Amaldi mengatakan strategi tersebut ditempuh untuk menjawab kebutuhan perusahaan yang menginginkan fleksibilitas lebih besar dalam mengembangkan sistem sekaligus mengendalikan biaya teknologi dalam jangka panjang.

Baca Juga

“Perusahaan Indonesia semestinya memiliki sistemnya sendiri, bukan menyewanya selamanya,” ujar Wahyu dalam keterangan tertulis, Kamis (13/8/2026).

Menurut dia, model bisnis perangkat lunak enterprise selama ini banyak bertumpu pada lisensi dan layanan cloud dengan pembayaran berulang. Kondisi tersebut membuka peluang bagi perusahaan teknologi lokal untuk menawarkan alternatif berupa sistem yang dapat dimiliki dan dikembangkan oleh klien.

Ilmuprogram kemudian meluncurkan Ilmuprogram Agentic AI Platform sebagai salah satu produk untuk masuk lebih dalam ke pasar enterprise. Platform tersebut menghubungkan AI agent dengan sistem inti perusahaan dan dapat dijalankan di infrastruktur milik klien.

Strategi tersebut juga memungkinkan perusahaan menawarkan AI bukan sebagai produk terpisah, melainkan sebagai lapisan yang terintegrasi dengan sistem bisnis yang sudah digunakan pelanggan.

Platform dapat terhubung dengan sistem Enterprise Asset Management, Spending Management, Budgeting & Planning, Customer Relationship Management (CRM), Supply Chain Management, hingga SAP. AI dapat digunakan untuk menjalankan sejumlah proses, seperti menyusun purchase request, memeriksa anggaran, menerbitkan work order pemeliharaan, dan menjalankan alur kerja lintas aplikasi.

Wahyu mengatakan pendekatan tersebut sekaligus menjadi strategi untuk membangun posisi perusahaan lokal di pasar teknologi enterprise yang selama ini banyak diisi vendor global.

“Polanya selalu sama. Perusahaan membayar setiap tahun, tetapi ketika ingin mengubah proses kerjanya sendiri, mereka harus menunggu vendor. Sekarang gelombang AI mengulang pola yang sama, dan taruhannya lebih besar. Bukan hanya sistemnya yang disewa, datanya ikut dikirim keluar,” kata Wahyu.

Dalam model yang ditawarkan Ilmuprogram, klien memperoleh platform beserta source code. Sistem dapat ditempatkan di server perusahaan (on-premise) maupun cloud pilihan klien tanpa kewajiban membayar lisensi per pengguna setiap tahun.

Model tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengembangkan sistem bersama tim internal atau menggunakan mitra teknologi lain. Bagi penyedia teknologi lokal, skema ini juga mengubah sumber pendapatan dari sekadar biaya lisensi menjadi pengembangan sistem, implementasi, integrasi, dan layanan teknologi.

Dari sisi keekonomian, Ilmuprogram menggunakan simulasi untuk menunjukkan potensi perbedaan biaya antara model kepemilikan dan lisensi tahunan. Untuk perusahaan dengan 100 pengguna, model kepemilikan diproyeksikan mencapai titik impas pada akhir tahun kedua.

Pada akhir tahun ketiga, biaya model kepemilikan dalam simulasi tersebut sekitar 13 persen lebih rendah atau selisih sekitar Rp580 juta. Pada tahun kelima, selisih diproyeksikan mencapai sekitar 29 persen atau Rp1,87 miliar.

Wahyu menegaskan simulasi tersebut bersifat ilustratif dan bukan hasil pengukuran terhadap klien. Biaya aktual bergantung pada jumlah pengguna, cakupan modul, tingkat kustomisasi, serta infrastruktur yang digunakan.

“Semakin banyak penggunanya dan semakin sering sistemnya perlu diubah, semakin cepat titik impasnya tercapai. Untuk perusahaan kecil dengan kebutuhan standar, model langganan bisa saja lebih masuk akal,” ujarnya.

Selain mengembangkan platform AI, Ilmuprogram membangun portofolio perangkat lunak enterprise secara in-house. Produk yang dikembangkan mencakup ERP, Enterprise Asset Management, Spending Management, dan Budgeting & Planning, serta solusi untuk sektor perkebunan, properti, hulu migas, pertambangan, rumah sakit, dan pendidikan tinggi.

Perusahaan juga mengembangkan solusi yang dapat digunakan sebagai aplikasi web, aplikasi mobile, maupun ekstensi SAP S/4HANA dengan pendekatan Clean Core. Pengembangan dilakukan menggunakan Ilmuprogram Quality-Driven Methodology yang terdiri atas tujuh fase pengembangan dan pengendalian mutu.

Di tengah meningkatnya kebutuhan AI di sektor enterprise, perusahaan teknologi lokal juga menghadapi tantangan untuk menyediakan talenta yang mampu mengembangkan dan memelihara sistem. Karena itu, Ilmuprogram menjalankan program pengembangan talenta di bidang full-stack development, SAP Clean Core extension, dan implementasi AI untuk kebutuhan enterprise.

“Kemandirian teknologi tidak berhenti pada perangkat lunaknya. Kalau tidak ada yang bisa merawat dan mengembangkannya di dalam negeri, kepemilikan itu hanya di atas kertas,” kata Wahyu.

Strategi tersebut menunjukkan upaya perusahaan teknologi lokal untuk menggeser persaingan dari sekadar harga dan fitur menuju model kepemilikan, fleksibilitas pengembangan, serta kemampuan mengintegrasikan AI dengan kebutuhan bisnis. Perubahan kebutuhan perusahaan terhadap kendali data dan sistem dapat menjadi ruang pertumbuhan baru bagi pemain teknologi domestik di pasar enterprise.

Berita Lainnya

Rekomendasi