Selasa 23 Jun 2026 16:14 WIB

Dasco Telepon Dirut Pertamina usai Dapat Info Isu PHK akibat Gas Mahal

Kenaikan harga gas disebut mengancam keberlangsungan nasib ribuan pekerja.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menelepon langsung Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri setelah menerima informasi mengenai potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh pabrik keramik di Bekasi, Jawa Barat. (iustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menelepon langsung Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri setelah menerima informasi mengenai potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh pabrik keramik di Bekasi, Jawa Barat. (iustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menelepon langsung Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri setelah menerima informasi mengenai potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh pabrik keramik di Bekasi, Jawa Barat, akibat mahalnya harga gas industri.

Momen tersebut terjadi saat Dasco menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta, Selasa. Ia menelepon Simon sesaat sebelum menyampaikan sambutan pada acara tersebut.

Baca Juga

"Halo, Pak Dirut Pertamina, ini saya lagi di Rakernas KSPI. Ya, saya tadi ditanyakan mengenai masalah gas industri. Jadi, ini saya tadi sudah merancang pidato, cuma buyar semua gara-gara soal gas," kata Dasco saat menelepon Dirut Pertamina.

Percakapan melalui telepon itu dilakukan Dasco sambil mendekatkan gawainya ke mikrofon sehingga suara percakapan terdengar oleh audiens. Dalam percakapan tersebut, Dirut Pertamina menyatakan akan segera berkoordinasi dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk menyikapi persoalan itu.

"Siap Pak Dasco, saya tentunya akan segera berkoordinasi dengan pihak PGN. Dari kami tentunya berkomitmen untuk melakukan penyesuaian," kata Simon dalam percakapan tersebut.

Dasco menyampaikan terdapat ancaman PHK terhadap sekitar 55 ribu karyawan di sejumlah pabrik keramik di Bekasi akibat mahalnya harga gas industri. Ia berharap segera ada solusi atas persoalan tersebut.

Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea menyebut harga gas mengalami kenaikan dari 6 dolar AS menjadi 23 dolar AS per million metric british thermal units (MMBTU).

"Dua pabrik anggota saya yang terbesar di Bekasi tutup. Itu Granito, satu lagi menyusul Milan Keramik dan Mulia Keramik, karena gas industri. Ini bahaya sekali," ungkap Andi.

Ia mengaku KSPSI juga telah berkoordinasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Andi berharap ada jalan keluar terkait persoalan tersebut dalam dua hingga tiga hari ke depan.

"Kita penghasil energi terbesar di dunia. Alangkah mirisnya kita malah kekurangan gas di dalam negeri, sementara kita malah mengekspor. Mudah-mudahan masalah ini cepat selesai," katanya.

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi