Selasa 23 Jun 2026 16:00 WIB

Harga Pertamax Berpotensi Turun pada Juli

Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, membuka peluang penurunan harga.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi memperkirakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax akan turun pada Juli seiring penurunan harga minyak dunia. (ilustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi memperkirakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax akan turun pada Juli seiring penurunan harga minyak dunia. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi memperkirakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax akan turun pada Juli seiring penurunan harga minyak dunia.

“Mestinya, awal Juli ini Pertamax akan diturunkan harganya,” ujar Fahmy ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Baca Juga

Fahmy menyampaikan, harga minyak dunia saat ini berada pada kisaran 80 dolar AS per barel, jauh lebih rendah setelah sempat melampaui 100 dolar AS per barel pada puncak ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Saat itu, kata dia, Iran menutup Selat Hormuz yang mengakibatkan kelangkaan pasokan minyak dunia. Setelah meredanya ketegangan antara Iran dan AS serta dibukanya kembali Selat Hormuz, Fahmy menyampaikan harga minyak dunia mulai turun karena persoalan kelangkaan pasokan mulai teratasi.

Meskipun demikian, Fahmy menilai perundingan antara Iran dan AS masih bersifat dinamis karena hasil perundingan tersebut belum menjamin terciptanya perdamaian yang berkelanjutan. “Jadi, masih fluktuatif entah sampai kapan. Tetapi, khusus untuk Indonesia, kalau harga Pertamax di atas harga pasar ketika dievaluasi, maka pemerintah harus menurunkannya,” ujar Fahmy.

 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan pemerintah tetap mengamankan alternatif sumber energi di tengah berlangsungnya perundingan antara AS dan Iran.

Meskipun perundingan tersebut memberikan sinyal positif untuk meredakan tensi di Timur Tengah dan membuka peluang kestabilan harga minyak dunia, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menilai hubungan Iran dan AS masih dinamis.

Menurut dia, Indonesia tetap harus mengantisipasi berbagai kemungkinan. “Optimistis harus, namun langkah antisipatif juga harus dilakukan,” ujar Anggia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement