Kamis 04 Jun 2026 11:44 WIB

Gara-gara Rupiah Melemah, Indonesia Diserbu Wisatawan Asing?

Belanja wisatawan berpotensi mendongkrak devisa sektor pariwisata.

Sejumlah penumpang pesawat melewati pemeriksaan kamera termal (thermal scanner) setibanya dari luar negeri di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Kota Tangerang, Selasa (19/05/2026). PT Angkasa Pura Indonesia Cabang Bandara Soekarno Hatta bersama Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Soekarno Hatta memasang kamera termal untuk memantau suhu tubuh penumpang saat tiba di bandara sebagai langkah antisipasi dan monitoring penyebaran dan penularan virus Hanta terutama penumpang dari Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan Panama.
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Sejumlah penumpang pesawat melewati pemeriksaan kamera termal (thermal scanner) setibanya dari luar negeri di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Kota Tangerang, Selasa (19/05/2026). PT Angkasa Pura Indonesia Cabang Bandara Soekarno Hatta bersama Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Soekarno Hatta memasang kamera termal untuk memantau suhu tubuh penumpang saat tiba di bandara sebagai langkah antisipasi dan monitoring penyebaran dan penularan virus Hanta terutama penumpang dari Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan Panama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim menilai pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan mendorong penerimaan devisa dari sektor pariwisata.

"Sejumlah data menunjukkan wisatawan dari negara-negara tetangga dan kawasan Asia mengalami tren peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Sektor pariwisata juga diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap penerimaan devisa negara," kata Chusnunia di Jakarta, dikutip Kamis (4/6/2026).

Baca Juga

Menurut dia, pelemahan kurs rupiah membuat biaya berwisata di Indonesia relatif lebih murah bagi wisatawan asing, terutama yang menggunakan dolar Amerika Serikat atau mata uang kuat lainnya.

Kondisi tersebut dinilai tidak hanya menguntungkan sektor perhotelan dan maskapai penerbangan, tetapi juga mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama selama berada di Indonesia.

"Ketika wisatawan asing memiliki daya beli lebih besar akibat kurs yang menguntungkan, pengeluaran mereka untuk akomodasi, kuliner, hiburan hingga produk lokal cenderung meningkat," ujarnya.

Ia mengatakan peningkatan belanja wisatawan berpotensi mendongkrak devisa sektor pariwisata sekaligus menggerakkan berbagai sektor pendukung, seperti restoran, transportasi lokal, pusat oleh-oleh, pelaku ekonomi kreatif, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut Chusnunia, kondisi tersebut memberikan manfaat bagi daerah yang bergantung pada sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi. Meski demikian, ia mengingatkan pelemahan rupiah juga membawa tantangan bagi pelaku usaha yang masih bergantung pada barang impor.

"Sejumlah pelaku usaha yang masih bergantung pada barang impor, seperti makanan premium, minuman impor, hingga perlengkapan hotel tertentu, tetap menghadapi kenaikan biaya operasional," katanya.

Ia berharap nilai tukar rupiah dapat kembali menguat agar perekonomian nasional semakin membaik dan pertumbuhan sektor pariwisata berlangsung secara berkelanjutan.

"Dalam situasi sekarang, seluruh pelaku industri pariwisata harus tetap optimistis melihat peluang yang muncul di tengah berbagai tantangan global. Kita harus bergandeng tangan untuk menjaga pertumbuhan sektor pariwisata nasional," ujar Chusnunia.  

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement