REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut, pelemahan yang berlanjut pada Mata Uang Garuda karena dampak tensi geopolitik di Timur Tengah yang berlanjut, serta masih tingginya kebutuhan terhadap dolar AS.
Dikutip dari Bloomberg, rupiah melemah 35 poin atau 0,20 persen menuju level Rp 17.880,5 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 17.845,5 per dolar AS.
"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN (utang luar negeri) dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas," kata Denny dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Menanggapi tren pelemahan rupiah yang berlanjut, kata Denny, BI terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, around the clock. Komitmen tersebut diwujudkan melalui mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
Termasuk transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur. Selain itu, BI juga terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market.