REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Okupansi sektor hotel mewah Indonesia kembali ke tingkat sebelum pandemi. Pencapaian ini melampaui semua kelas hotel lainnya dan menandakan babak baru permintaan perjalanan premium, tepat saat industri pariwisata nasional memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
Pemulihan ini menjadi sorotan utama dalam Indonesia Tourism Xchange 2026 (ITX 2026) perdana yang digelar di The Langham, Jakarta. Forum ini menghadirkan lebih dari 400 pemimpin industri dari sektor perhotelan, pariwisata, investasi, data, keberlanjutan, hingga real estat berlabel dagang.
Sebagai tuan rumah dan mitra, The Langham, Jakarta memberi konteks yang tepat bagi diskusi. Lokasinya di salah satu tempat paling prestisius di Ibu Kota menghubungkan acara dengan percakapan yang lebih luas seputar perjalanan premium, pengembangan kawasan mixed-use, dan perhotelan berbasis merek.
“Wisatawan mewah yang datang ke Indonesia tidak mencari replika dari hotel global,” ujar Sherona Shng, Wakil Presiden Regional Operasional Asia, Langham Hospitality Group.
"Mereka mencari makna, konteks, dan rasa tempat. Merek yang berhasil di sini adalah yang memahami kompleksitas budaya Indonesia dan menghadirkan pengalaman yang sangat personal, bukan yang distandardisasi,” ujar dia menjelaskan.
Okupansi hotel mewah di Indonesia kembali ke level sebelum pandemi selama 12 bulan belakangan yang berakhir Maret 2026, Pencapaian ini melampaui kelas hotel lainnya yang masih tertinggal 5,5 poin persentase, dan menegaskan ketahanan permintaan perjalanan kelas atas. Angka itu merunut pada data yang dikeluarkan STR, divisi analitik hotel dari CoStar Group.
Tarif hotel Indonesia juga naik lebih dari 40 persen sejak 2019. Kenaikan didorong oleh pasar yang semakin matang dan masuknya pasokan hotel kelas atas baru.
Sejak 2023, hotel mewah memimpin pertumbuhan rata-rata tarif harian. Di Bali, segmen mewah terus mencatat pertumbuhan tarif kuat berkat permintaan internasional dan diversifikasi pasar asal.