Jumat 08 May 2026 13:45 WIB

Menperin Bantah PHK Massal, Industri Manufaktur Justru Serap 20 Juta Pekerja

Kontribusi manufaktur terhadap ekonomi nasional terus meningkat.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Friska Yolandha
Pengunjung beraktivitas di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Kamis (7/8/2025). Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) merupakan salah satu tanda melemahnya daya beli masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor mikro dan makro. Menurut data dari Satudata Kementerian Ketenagakerjaan, lonjakan Pemutusan Hubungan Pekerjaan (PHK) pada semester I 2025 berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Sebanyak 42.385 pekerja mengalami PHK dari Januari hingga Juni 2025, melonjak tajam 32,19% dibandingkan periode tahun sebelumnya. Hal tersebut menjadi sinyal kondisi perbelanjaan mengalami kelesuan.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung beraktivitas di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Kamis (7/8/2025). Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) merupakan salah satu tanda melemahnya daya beli masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor mikro dan makro. Menurut data dari Satudata Kementerian Ketenagakerjaan, lonjakan Pemutusan Hubungan Pekerjaan (PHK) pada semester I 2025 berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Sebanyak 42.385 pekerja mengalami PHK dari Januari hingga Juni 2025, melonjak tajam 32,19% dibandingkan periode tahun sebelumnya. Hal tersebut menjadi sinyal kondisi perbelanjaan mengalami kelesuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masif tidak terjadi di sektor industri. Sebaliknya, penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur mencapai 20 juta orang per Februari 2026.

“Jadi ini juga bisa mematahkan bahwa manufaktur sekarang sedang terjadi PHK di mana-mana, karena sebetulnya dalam data kami, memang harus diakui ada PHK, tapi penciptaan lapangan kerja jauh lebih banyak dibanding PHK yang ada di lapangan,” kata Menperin Agus dalam Peresmian Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Badung, Bali, Jumat (8/5/2026).

Baca Juga

Agus menyampaikan industri manufaktur nasional tetap mampu menunjukkan resiliensi dan daya tahan yang kuat di tengah dinamika global.

Menurut dia, ketahanan industri manufaktur juga telah terbukti saat pandemi COVID-19 melanda. Ketika itu, sektor manufaktur menjadi sektor yang mengalami pemulihan paling cepat dibandingkan sektor lainnya.

Menperin Agus memaparkan, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), industri manufaktur pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,04 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 4,55 persen.

Selain itu, kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 19,07 persen dengan nilai sekitar Rp 1.179 triliun.

“Angka ini sebenarnya bisa menjadi dasar untuk kita mematahkan semua narasi yang mengatakan bahwa industri manufaktur sedang mengalami tahap deindustrialisasi dini,” katanya.

Ia menambahkan, tren kontribusi manufaktur terhadap PDB nasional dalam empat hingga lima tahun terakhir terus meningkat. Dari sisi investasi, sektor manufaktur pada triwulan I 2026 mencatat kontribusi realisasi investasi sebesar 36,5 persen atau senilai Rp 182 triliun.

Lebih lanjut, di sektor perdagangan luar negeri, Agus menyebut kontribusi ekspor manufaktur terhadap total ekspor nasional juga terus meningkat. Berdasarkan data BPS pada Januari-Februari 2026, ekspor manufaktur mencapai 83,6 persen dari total ekspor nasional.

“Jadi hanya 14 persen ekspor nasional itu yang bukan manufaktur. Semuanya adalah barang-barang manufaktur. Itu menunjukkan pentingnya sektor kita ini terhadap perekonomian nasional,” ujar Agus.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement