REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Holding Perkebunan Nusantara, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) (PTPN III), menjajaki kerja sama strategis pengembangan bioetanol bersama Pertamina Group dan Medco Group. Inisiatif ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program mandatori bioetanol (E20) yang ditargetkan pemerintah pada tahun 2028.
Direktur Utama PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, menyampaikan pengembangan bioetanol merupakan bagian dari implementasi arah kebijakan nasional. Pengembangan bioetanol sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, serta komitmen Menteri Pertanian memperkuat hilirisasi komoditas pertanian sebagai bagian dari strategi besar menuju ketahanan pangan dan energi nasional.
"Indonesia memiliki potensi besar dari komoditas seperti tebu (molases), ubi kayu, dan jagung yang dapat dioptimalkan sebagai sumber energi terbarukan,” ujarnya.
Ia menegaskan arah kebijakan pemerintah sudah jelas dalam mendorong kemandirian energi nasional. “Karena itu, pada Rapat Kerja Pemerintah tanggal 8 April 2026, Bapak Presiden menegaskan arah yang jelas, Indonesia harus mempercepat kemandirian pangan dan energi," katanya.
"Salah satu focus utamanya adalah implementasi bioetanol E20 pada tahun 2028. Artinya, kita harus memastikan kesiapan nyata dari hulu sampai hilir,” ujarnya menambahkan.
Menurut Denaldy keberhasilan implementasi E20 sangat bergantung pada kekuatan pasokan bahan baku dalam negeri. Untuk mencapai E20, kuncinya ada pada feedstock yang kuat dan berkelanjutan. “Dan kita memiliki itu. Tebu, ubi kayu, dan jagung adalah kekuatan kita. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan semuanya menjadi satu sistem dan hari ini kita mulai,” ucapnya.
Sejalan dengan program hilirisasi Kementerian Pertanian, PTPN Group mendapat penugasan hilirisasi komoditas tebu, ubi kayu dan jagung. Perseroan juha ditugaskan membanngun 10 unit pabrik bioetanol yang tersebar di Lampung, Jabar, Jatim, Sulsel, dan NTB.