REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 berada pada level 5 persen. Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan sebagaimana proyeksi Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), pertumbuhan ekonomi global akan mengalami perlambatan. Namun, bagi Indonesia, proyeksi perlambatan relatif tidak signifikan.
“Kalau Indonesia, relatif tidak terlalu signifikan, dari 5,1 persen ke 5 persen. Ini sesuai dengan outlook kami sebelumnya, turun di 5 persen sepanjang 2026 ini,” kata Rully dalam kegiatan “Media Day” secara virtual di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Rully menambahkan bahwa ruang pelonggaran suku bunga cenderung terbatas di tengah tekanan inflasi dan harga minyak.
Sementara itu, untuk kuartal II 2026, dia mengatakan dinamika suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar.
Konflik geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan global, turut mendorong tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
“Volatilitas merupakan bagian dari dinamika global. Namun, dengan fundamental domestik yang masih relatif terjaga, peluang investasi di pasar Indonesia masih terbuka,” ujar Rully.
Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia mampu mencetak pertumbuhan 5,4—6 persen pada 2026 dalam Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional dan Grup Bank Dunia (IMF–World Bank Spring Meeting).
Menkeu menyatakan, ketika banyak negara mengalami perlambatan ekonomi, perekonomian Indonesia tetap tangguh dengan tumbuh sebesar 5,11 persen pada 2025.
Pertumbuhan yang stabil membuktikan bahwa ekonomi domestik Indonesia sehat dan mampu menghadapi tekanan dari luar.
Optimisme juga terlihat dari perekonomian domestik Indonesia yang tangguh, yang ditopang konsumsi rumah tangga yang kuat, surplus neraca perdagangan yang masih berlanjut, pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, defisit fiskal yang terkelola, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang rendah, serta kebijakan hilirisasi yang berkelanjutan.