REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan kenaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi menjadi keharusan lantaran menggunakan mekanisme pasar. Faisal menyampaikan Indonesian Crude Price (ICP) saat ini melonjak tinggi ke level 90 dolar AS hingga 100 dolar AS per barel dari sebelum perang yang berkisar di angka 60 dolar AS per barel.
"Ini kan sangat memungkinkan untuk BBM nonsubsidi yang harganya floating tidak ditahan pemerintah, tapi mengikuti harga pasar untuk naik," ujar Faisal saat dihubungi Republika di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Faisal menyampaikan kebijakan baru tersebut tak serta merta melepaskan beban Pertamina yang masih mempertahankan harga BBM nonsubsidi lain yakni Pertamax. Faisal mengatakan Pertamina masih menanggung selisih antara harga keekonomian Pertamax.
"Jadi saya pikir langkah ini memang akan menggerus keuangan Pertamina, tetapi secara ekonomi akan jadi lebih aman, karena dinaikkannya dengan hati-hati," ucap dia.
Faisal mengatakan kenaikkan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex merupakan langkah yang tepat. Faisal menyebut hal ini tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap daya beli maupun tingkat inflasi.
"Yang baru dinaikkan itu BBM nonsubsidi yang dari jumlah atau nilai konsumsi masih relatif kecil. Saya lihat baru di bawah dua persen terhadap total konsumsi BBM," lanjut Faisal.
Faisal mengatakan BBM nonsubsidi jenis ini menyasar kalangan atas yang memiliki kekuatan daya beli. Terlebih, sambung dia, angkutan logistik pun tak ikut terdampak lantaran tidak mengkonsumsi BBM nonsubsidi jenis tersebut.
"Dampaknya terbatas pada kalangan atas dan bukan pada kalangan rentan, inflasi juga relatif terbatas karena konsumsi di bawah dua persen dan tidak kena logistik yang banyak gunakan BBM subsidi. Jadi aman sejauh ini," ucap Faisal.
Faisal mengatakan dampak yang cukup signifikan baru akan terjadi apabila adanya kenaikan pada harga Pertamax. Faisal mengatakan Pertamax merupakan salah satu BBM dengan tingkat konsumsi yang cukup besar.
"Kalau nanti akhirnya naik yang RON 92, Pertamax, kemungkinan besar dampak inflasi lebih besar karena tingkat konsumsi di atas 10 persen," kata Faisal.