REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong keterlibatan santri dan pesantren dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Program santri tani digulirkan untuk menanamkan kebiasaan konsumsi produk dalam negeri serta mengurangi pemborosan pangan.
Sekretaris Jenderal Kementan Suwandi mengatakan, pesantren menjadi mitra strategis dalam pembangunan sektor pertanian. “Program santri tani mengajarkan santri mencintai produk dalam negeri dan membiasakan tidak membuang makanan,” ujarnya di Bandung, Sabtu (18/4/2026).
Menurut dia, program tersebut telah berjalan di berbagai pesantren di Indonesia dan disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing. Salah satu contohnya Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Rancabali, Kabupaten Bandung, yang mengembangkan hortikultura berbasis koperasi pesantren.
Kementan juga menggandeng TNI dan Polri untuk mendukung target swasembada pangan. Suwandi menyebut capaian tersebut telah diraih pada 2025 melalui penguatan produksi dan hilirisasi sektor pertanian.
Ia menilai penguatan peran pesantren tidak hanya berdampak pada aspek keagamaan, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.
Sementara itu, Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Kosasih mengatakan kegiatan Siliwangi Santri Camp menjadi upaya memperluas wawasan kebangsaan di kalangan santri.
“Kami ingin santri tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan dan siap menjadi kader bangsa,” katanya.
Kegiatan yang melibatkan sekitar 1.000 santri dari Jawa Barat dan Banten ini menjadi yang pertama digelar di lingkungan Kodam.