Selasa 07 Apr 2026 15:03 WIB

IMF Peringatkan Dampak Perang: Inflasi Naik, Negara Miskin Paling Terpukul

Ketidakpastian global meningkat seiring konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Rig minyak milik Shell. Perang di Timur Tengah akan menyebabkan inflasi lebih tinggi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global
Foto: Shell
Rig minyak milik Shell. Perang di Timur Tengah akan menyebabkan inflasi lebih tinggi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Perang di Timur Tengah akan menyebabkan inflasi lebih tinggi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global, kata pimpinan Dana Moneter Internasional (IMF) kepada Reuters, menjelang rilis proyeksi ekonomi dunia oleh lembaga tersebut pekan depan. Perang tersebut memicu gangguan terburuk dalam pasokan energi global, dengan jutaan barel produksi minyak terhenti akibat penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, jalur penting bagi pengiriman seperlima minyak dan gas dunia.

Bahkan jika konflik segera berakhir, IMF tetap akan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dan menaikkan perkiraan inflasi, kata Kristalina Georgieva.

Baca Juga

Perang ini diperkirakan akan mendominasi pembahasan para pejabat keuangan dari seluruh dunia dalam pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia di Washington pekan depan.

IMF dijadwalkan merilis berbagai skenario dalam laporan World Economic Outlook pada 14 April. Dalam unggahan blog pada 30 Maret, IMF telah memberi sinyal kemungkinan penurunan proyeksi, dengan menyebut dampak asimetris perang dan pengetatan kondisi keuangan. Tanpa perang, IMF sebelumnya memperkirakan pertumbuhan global sebesar 3,3 persen pada 2026 dan 3,2 persen pada 2027, seiring pemulihan ekonomi pascapandemi.

“Sebaliknya, semua arah kini mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” ujar Georgieva, yang akan memberikan pratinjau pertemuan tersebut dalam pidato pada Kamis. Presiden Bank Dunia Ajay Banga juga dijadwalkan menyampaikan pandangannya dalam sebuah acara pada Selasa.

“Kita berada di dunia dengan ketidakpastian yang tinggi,” kata Georgieva, merujuk pada ketegangan geopolitik, perkembangan teknologi, guncangan iklim, dan perubahan demografi. “Semua ini berarti setelah kita pulih dari guncangan ini, kita harus tetap waspada terhadap guncangan berikutnya.”

Perang tersebut telah mengurangi pasokan minyak global sebesar 13 persen, dengan dampaknya menjalar ke pengiriman minyak dan gas serta rantai pasok terkait seperti helium dan pupuk.

Bahkan jika konflik berakhir cepat dan pemulihan berlangsung relatif cepat, revisi penurunan pertumbuhan dan kenaikan inflasi tetap akan terjadi dalam skala yang relatif kecil. Jika perang berlangsung lama, dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan akan semakin besar.

 

 

sumber : REUTERS
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement