REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global apabila terus menghambat pasokan minyak, gas, dan pupuk dari kawasan Teluk. Dalam pernyataannya, lembaga berbasis di Washington tersebut menegaskan bahwa seluruh negara di berbagai benua akan terdampak.
Dilansir The Guardian, Selasa (31/3/2026), kenaikan biaya energi dan pangan dinilai dapat menekan pertumbuhan ekonomi tahun ini serta meninggalkan dampak jangka panjang bagi perekonomian global.
Peringatan IMF ini muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika tidak tercapai kesepakatan damai. Analisis IMF tersebut dinilai sebagai sinyal peringatan atas dampak perang terhadap kondisi ekonomi rumah tangga yang sudah tertekan.
Dalam tulisan blog yang disusun oleh pimpinan departemen IMF, termasuk Kepala Ekonom Pierre-Olivier Gourinchas, disebutkan bahwa pemerintah dengan tingkat utang tinggi akan memiliki ruang fiskal terbatas untuk meredam dampak krisis.
“Meski perang dapat membentuk ekonomi global dengan berbagai cara, semua skenario mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” tulis IMF.