REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (12/10/2026) bergerak menguat 5 poin atau 0,03 persen menjadi Rp 17.894 per dolar AS. Angka ini menguat dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.899 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh penurunan harga minyak dan indeks dolar AS. "Rupiah hari ini diperkirakan menguat tipis pada kisaran Rp 17.870-Rp 17.900 dipengaruhi oleh global penurunan harga minyak dan indeks dolar," katanya di Jakarta, Senin.
Tercatat, harga minyak mentah berjangka Brent menurun 0,91 persen menjadi 103,95 dolar AS per barel, dan indeks dolar AS sedikit terpangkas menjadi 102,2. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan dengan Rusia mengenai energi.
Mengutip Sputnik, Rusia disebut siap memasok 300 ribu ton solar ke pasar global paling cepat pada bulan Oktober. Pasokan ini lalu meningkat 500 ribu ton pada November, dan 1 juta ton pada Desember, sehingga potensi volume pengiriman mencapai 3 juta ton per bulan.
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump melakukan pembicaraan melalui telepon. Pemimpin Rusia tersebut menegaskan kesiapan Rusia untuk memasok minyak dan produk minyak bumi ke pasar AS dan pasar global.
Rusia juga akan segera mencabut pembatasan ekspor solar lebih awal dari jadwal. Setelah pembatasan ekspor itu dicabut, pasar Rusia akan terpenuhi sepenuhnya dengan pasokan solar.
Melihat sentimen domestik, lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) dinilai tetap dapat menjaga rupiah tetap stabil. Tercatat, lelang SRBI menyerap Rp 30 triliun dengan yield yang turun menjadi 6,55 persen untuk 6 bulan, 6,52 persen untuk 9 bulan, dan 6,68 persen untuk 12 bulan.
"Namun, indeks keyakinan konsumen dan penanganan bencana dan karhutla (kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera) masih menjadi perhatian pelaku pasar," tuturnya.