Kamis 19 Feb 2026 18:00 WIB

Biaya Logistik Masih Tinggi, Digitalisasi Jadi Kunci

Penerapan sistem telematika modern diklaim mampu menekan konsumsi bahan bakar.

Sektor logistik (ilustrasi).
Foto: Ist
Sektor logistik (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rasio biaya logistik Indonesia yang masih bertengger di kisaran 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi alarm serius bagi daya saing nasional. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan biaya logistik tertinggi secara global, berimplikasi langsung terhadap harga barang dan efisiensi industri.

Memasuki 2026, tekanan terhadap sektor logistik darat diperkirakan semakin besar. Lonjakan distribusi akibat pertumbuhan e-commerce, manufaktur, pertambangan, dan perkebunan tidak selalu diimbangi integrasi teknologi dan infrastruktur yang memadai.

Baca Juga

Indeks Kinerja Logistik (Logistics Performance Index/LPI) Indonesia pada 2023 bahkan tercatat turun ke peringkat 46 dunia, mencerminkan tantangan pada sistem distribusi, efisiensi pengiriman, dan manajemen rantai pasok.

Di lapangan, beban operasional semakin kompleks. Fluktuasi harga bahan bakar, kenaikan tarif tol, hingga biaya perawatan kendaraan menjadi faktor yang sulit dikendalikan. Sementara itu, potensi pemborosan sering kali luput dari pengawasan, mulai dari kendaraan menganggur, perjalanan tanpa muatan (empty haul), hingga perilaku berkendara yang boros bahan bakar.

Tanpa sistem pemantauan yang akurat dan terintegrasi, sumber inefisiensi tersebut sulit teridentifikasi secara menyeluruh.

Di sisi lain, standar layanan pelanggan terus meningkat. Ketepatan waktu kini menjadi indikator utama. Transparansi pengiriman juga menjadi tuntutan, dengan kebutuhan pelacakan posisi barang secara real-time, bukan lagi sekadar laporan manual.

Analis industri menilai transformasi berbasis data bukan lagi opsi tambahan, melainkan kebutuhan strategis. Pengelolaan armada berbasis teknologi memungkinkan perusahaan bergerak dari pendekatan reaktif menuju manajemen operasional yang proaktif.

Menjawab kebutuhan tersebut, TransTRACK memperkenalkan Fleet Management System yang dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan armada dan pengiriman dalam satu platform berbasis data real-time.

“Data real-time menjadi kebutuhan mendesak logistik 2026, bukan lagi sekadar pelengkap operasional,” ujar Terryus Wijaya, Marketing Lead TransTRACK, Kamis (19/2/2026).

Sistem ini memungkinkan perusahaan memantau posisi kendaraan secara langsung, mengukur konsumsi bahan bakar, hingga menerima notifikasi perawatan sebelum terjadi kerusakan. Pendekatan tersebut membantu perusahaan mengantisipasi risiko operasional sebelum menimbulkan kerugian.

“Dengan pendekatan terintegrasi, perusahaan dapat beralih dari model reaktif menjadi proaktif dalam mengelola risiko operasional,” tambahnya.

Dari sisi efisiensi, penerapan sistem telematika modern diklaim mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga 25 persen serta meningkatkan utilisasi armada antara 15 hingga 40 persen. Otomatisasi laporan operasional juga mendukung proses audit dan kepatuhan regulasi.

Metrik performa seperti biaya per perjalanan, tingkat ketepatan waktu, hingga skor keselamatan pengemudi dapat dipantau secara langsung sebagai dasar evaluasi bisnis.

Sejumlah implementasi di lapangan menunjukkan hasil konkret. Pada perusahaan distribusi barang konsumsi, fitur live tracking dan optimalisasi rute membantu meningkatkan akurasi estimasi waktu tiba serta mengurangi penalti akibat keterlambatan.

Di sektor industri berat, pemantauan jam mesin memungkinkan perawatan terjadwal tanpa mengganggu produksi, sehingga downtime kendaraan dapat ditekan.

Transformasi logistik darat Indonesia pada akhirnya bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam mengelola data operasional secara real-time.

Jumlah armada bukan lagi satu-satunya ukuran keunggulan. Transparansi, efisiensi biaya, dan kemampuan membaca risiko menjadi faktor penentu daya saing di era distribusi modern.

Tahun 2026 diperkirakan menjadi momentum krusial bagi industri logistik nasional untuk mempercepat adopsi teknologi dan memperkuat fondasi keberlanjutan bisnis di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement