REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU — Di balik terjaganya pasokan energi bagi jutaan masyarakat di Jawa Barat dan sekitarnya, terdapat sistem distribusi yang bekerja nyaris tanpa jeda. Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit VI Balongan menjadi simpul penting integrasi rantai pasok hulu hingga hilir, mulai dari pengolahan minyak mentah, pengendalian mutu produk, hingga penyaluran bahan bakar minyak (BBM) dan LPG ke berbagai wilayah. Dari fasilitas inilah, denyut distribusi energi nasional dijaga selama 24 jam penuh, memastikan ketersediaan pasokan tetap stabil, aman, dan berkualitas.
Sebagai salah satu kilang dengan kompleksitas tertinggi di Indonesia, Balongan mengoperasikan kapasitas pengolahan mencapai 150 ribu barel per hari. Kilang ini memproduksi berbagai produk utama, seperti gasoline, gasoil, avtur, LPG, serta produk petrokimia, termasuk propylene. Sekitar 82 persen hasil produksi Kilang Balongan diserap oleh wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat, menjadikannya tulang punggung suplai energi bagi pusat kegiatan ekonomi nasional.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, posisi strategis Balongan tidak terlepas dari keterhubungannya dengan fasilitas hulu dan hilir Pertamina lainnya. Kilang ini berdekatan dengan lapangan migas Pertamina EP dan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) sebagai salah satu sumber bahan baku, serta terintegrasi dengan Integrated Terminal Balongan sebagai pintu utama distribusi BBM dan LPG ke masyarakat.
“Pertamina sebagai perusahaan energi terintegrasi memiliki fasilitas-fasilitas yang saling terkait dari hulu hingga hilir. Kilang Balongan menjadi salah satu simpul penting dalam sistem tersebut, sebagai upaya optimalisasi infrastruktur untuk menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Baron.
Di sisi hilir, Integrated Terminal (IT) Balongan menjadi titik krusial dalam memastikan produk hasil olahan kilang tersalurkan secara presisi. Aktivitas pengisian dan distribusi BBM di fasilitas ini berlangsung selama 24 jam penuh, dengan puluhan mobil tangki silih berganti mengangkut produk menuju SPBU, konsumen industri, hingga sektor aviasi di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Cikampek, Tasikmalaya, dan Tegal.
Section Head Oil Movement PT Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan, Wawan Dermawan, menjelaskan, rata-rata terdapat sekitar 69 unit mobil tangki yang melakukan pengisian setiap hari di IT Balongan. Total volume penyaluran harian berada di kisaran 2.500 kiloliter (kL), dan dalam periode tertentu dapat meningkat hingga di atas 3.100 kL per hari.
“Kami mulai aktivitas penyaluran dari jam dua dini hari dan berakhir maksimal jam 23.00 malam. Dengan sistem operasi 24 jam, kami memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Wawan.
Menurutnya, cakupan layanan IT Balongan tidak terbatas pada wilayah Indramayu dan sekitarnya. Fasilitas ini juga berperan sebagai penyangga suplai regional, dengan skema distribusi reguler, alternatif, hingga emergency.
“Kami melayani wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Selain itu, kami juga menjangkau Cikampek di sisi timur, Tasikmalaya di sisi selatan, hingga Tegal di sisi barat. Bahkan, jika dibutuhkan, kami bisa menjadi backup suplai untuk wilayah lain,” tambahnya.
Dari sisi armada, satu unit mobil tangki dapat melayani dua hingga empat kali pengisian dalam sehari. Sistem kerja bergilir diterapkan dengan menyiapkan dua pasang awak mobil tangki (AMT) untuk setiap unit, guna menjaga keselamatan dan keandalan operasional.
“Untuk satu unit mobil tangki, kami menyiapkan dua pasang pengemudi yang bekerja silih berganti. Dengan pola ini, operasional tetap aman dan distribusi berjalan optimal,” jelas Wawan.
Dalam konteks transisi energi, Balongan juga berperan aktif mendukung kebijakan bauran energi nasional. Fasilitas IT Balongan telah mengoperasikan sistem inline blending untuk produk Biosolar B40 dan telah menyelesaikan uji coba serta commissioning untuk implementasi B50.
“Kami sudah siap untuk B50. Uji coba commissioning telah dilakukan dan hasilnya sesuai standar. Flow rate pengisian B50 sudah tercapai di kisaran 1.500 liter per menit. Secara teknis, fasilitas kami sudah ready, tinggal menunggu implementasi kebijakan pemerintah,” ungkap Wawan.
Ia menambahkan, kesiapan tersebut dicapai melalui penyesuaian kapasitas meter dan pengaturan sistem, tanpa perlu penambahan teknologi besar. Hal ini menunjukkan kesiapan infrastruktur Balongan dalam mendukung agenda transisi energi dan penguatan energi terbarukan nasional.
Di balik lancarnya distribusi dan kesiapan infrastruktur tersebut, terdapat peran penting Laboratorium Kilang Balongan sebagai garda terdepan penjamin mutu BBM. Tester I CFR & Aviation KPI RU VI Balongan, Zaeturohmah Febriyanti, mengatakan bahwa setiap pergerakan produk selalu melalui pengujian laboratorium yang ketat dan berlapis.
“Dalam setiap pergerakan minyak, kami selalu melakukan uji laboratorium. Sebelum menerima transfer produk dari kilang, kami lakukan pengujian. Setelah penerimaan, kami lakukan sampling dan uji kembali. Begitu juga saat penyaluran ke mobil tangki, setiap hari dilakukan pengujian dan seluruhnya tercatat dalam test report,” ujar Zaeturohmah.
Ia menjelaskan, pengujian mencakup lebih dari 20 parameter, mulai dari angka oktan, distilasi, viskositas, stabilitas oksidasi, kandungan sulfur, hingga karakteristik teknis lainnya, sesuai dengan spesifikasi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas).
“Produk yang kami lepaskan ke konsumen kami jamin sesuai spesifikasi Dirjen Migas. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kualitas BBM,” tegasnya.
Pengujian dilakukan sejak tahap awal penerimaan crude oil, selama proses pengolahan, hingga produk akhir sebelum distribusi. Seluruh peralatan laboratorium terkalibrasi dan menggunakan metode uji standar internasional seperti ASTM dan UOP, serta didukung personel tersertifikasi.
Dengan sistem operasi 24 jam, infrastruktur terintegrasi, dan pengawasan mutu berlapis, Balongan juga dinilai memiliki risiko kelangkaan pasokan yang sangat kecil, termasuk menjelang periode Ramadan dan Idulfitri. Wawan menuturkan, pihaknya secara rutin menyiapkan langkah antisipasi, mulai dari kesiapan armada, pemajuan jadwal pemeliharaan, hingga pembentukan satuan tugas khusus.
“Potensi kelangkaan sangat kecil. Kalau pun terjadi gangguan, biasanya karena faktor eksternal seperti banjir, longsor, atau terputusnya akses jalan, bukan karena keterbatasan suplai dari Balongan,” katanya.
Dengan peran strategis tersebut, Balongan menjadi potret nyata integrasi hulu hingga hilir sektor energi nasional. Dari laut, kilang, laboratorium, hingga terminal distribusi, seluruh sistem bekerja dalam satu orkestrasi untuk memastikan setiap tetes energi sampai ke masyarakat secara aman, tepat waktu, dan berkualitas.